Tahu kata “kepentingan”? Kita tahu itu berarti berasal dari penting, yang bisa diartikan ukuran nilai atau bobot yang kita persepsikan terhadap sesuatu. Dalam sebuah diskusi, biasanya akan saling terjadi diskusi kepentingan, apa yang kita anggap penting – kita ingin juga dianggap penting oleh lawan diskusi kita, demikian pula sebaliknya. Artinya ketika kita berdiskusi, sebenarnya kita bernegosiasi tentang tingkatan skala penting milik kita supaya diadopsi oleh rekan diskusi.

Saya ingin mundur sedikit lebih kebelakang. Penting menandakan adanya ukuran. Ukuran merupakan tolok ukur kita melakukan evaluasi dan penilaian. Kepentingan berarti tergantung dengan ukuran. Perdebatan diskusi sering terjadi karena perbedaan ukuran yang mengakibatkan perbedaan kepentingan.

Dalam wacana politik, hal ini lebih seru lagi. Ukuran menjadi lebih membingungkan karena seolah-olah tidak ada ukuran universal yang disepakati bersama. Seorang pemimpin pemerintahan diserang karena dari sisi ukuran penyerapan anggarannya yang sangat parah. Artinya uang pemerintah yang mengalir ke masyarakat akan berkurang, sehingga ekonomi tentu tidak maksimal. Dahulu ini dosa besar yang memalukan bagi seorang pemimpin pemerintah. Namun saat ini ada ukuran baru seolah-olah timbul, yaitu persepsi korupsi. Daripada diserap penuh, tapi dikorupsi, lebih baik tidak terserap. Apakah yakin yang sudah diserap juga bebas korupsi? Tapi kembali ke topik artikel ini, adalah soal beda ukuran.

Mari kita telaah beda ukuran ke dalam 3 hal:

1. Yang diukur beda (.. termasuk persepsi terhadap definisi ukuran)
2. Ranking ukuran yang beda
3. Skala ukuran beda

Ukuran yang berbeda

Ilustrasi politik pada paragraph pembuka diatas merupakan contoh dari ukuran yang berbeda. Dan ingat, ukuran itu tidak statis, dia akan dinamis. Artinya ukuran saat ini bisa berbeda dengan ukuran masa lalu atau ukuran masa depan.

Ukuran yang berbeda secara obyektif lebih mudah untuk didiskusikan dan dicari jalan tengahnya. Sehingga penting dalam diskusi anda memperhatikan arah diskusi untuk melihat apakah ada perbedaan ukuran secara obyektif, dan sebelum timbul debat yang berkelanjutan, klarifikasi perbedaan tersebut.

Apakah kita bisa mencapai kata sepakat ketika ukuran berbeda sepenuhnya? Pengalaman saya sih sulit, kecuali kesepakatan bahwa memang kita berbeda ukuran. Namun tentu ada kesejajaran ukuran yang bisa disepakati baik secara terbuka diakui atau menjadi kesepahaman bersama.

Namun juga perhatikan apakah ukuran yang berbeda ini adalah ukurannya atau persepsi ukurannya. Persepsi adalah interpretasi ukuran. Dan deskripsi ukuran dalam bahasa Indonesia kita memang bisa sarat dengan berbagai makna. Ukuran “memajukan kesejahteraan umum” dalam mukadimah UUD 45 saja bisa diartikan berbeda-beda oleh elemen bangsa ini. Jadi bisa saja ukurannya sama, namun ternyata cara menterjemahkannya berbeda.

Nah, kalau sudah urusan interpretasi memang sulit … sangat kompleks. Kalau tidak percaya yaa lihat saja interpretasi kepercayaan pribadi. Litab acuannya sama, namun ada yang berujung damai namun ada yang berujung kekerasan.

Ranking Ukuran yang Berbeda

Sumber perdebatan lainnya adalah ketika ukuran-ukuran yang digunakan sama, namun rankingnya berbeda. Ada yang menyebutkan urutannya adalah A B C D, lalu ada pula yang berpendapat D A C B, lau ada lagi C A D B.

Disinilah biasanya perbedaan kepentingan yang saya utarakan diatas timbul. Ketika apa yang dikatakan penting (ranking ukuran), tidak penting menurut orang lain. Nah perbedaan ranking inilah yang perlu dikemukakan dalam diskusi dan sedapat mungkin didapatkan ukuran yang sama.

Skala Ukuran yang Berbeda

Diskusi klasik tentang skala ukuran berbeda ini sering terjadi ketika membahas sebuah hasil dari kuesioner kualitatif, misalnya pengukuran kepuasan pelanggan. Ukuran biasanya dibuat dalam skala 1-5, dengan 1 kurang puas, sedankan 5 sangat puas. Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah jarak antara angka 1 ke 2. dengan angka 4 ke 5 adalah sama?

Kita bandingkan dengan lomba mewarnai gambar misalnya, apakah jarak kebanggaan seorang juara 1 dengan juara 2 memiliki jarak kebanggaan yang sama dengan juara 2 dan 3. Persepsinya yaa juara 1 yaa juara 1, jauhlah dengan juara 2. Hal ini juga berlaku di ranking kelas, jika juara 1, 2, 3 memiliki nilai rata-rata berutan 60, 55, 40, maka apakah berarti jaraknya sama.

Inilah skala. Skala dalam menilai ukuran sering timbul dalam diskusi. Misalnya dengan adanya pernyataan, “ah indikator kedua itu kan nggak jauh sama indikator satu, kenapa nggak sekalian aja..”.. Lah bisa saja indikator 1 dipilih karena memang lebih mudah dicapai dari pada indikator 2.

Jadi Bagaimana kalau ada Perbedaan Ukuran?

Silahkan diperhatikan dari 3 gejala diatas mana yang terjadi: apakah salah satu, salah dua atau salah tiga-tiganya. Lalu coba untuk mencari kesamaan ukuran yang bisa disepakati bersama, jika tidak ada, cari kesejajaran ukuran. Kesejajaran artinya tidak sama namun paling tidak mengarah pada tujuan yang sama. Jika tidak ada juga, yaa sudah, paling tidak anda sudah tahu bahwa percuma saja berdebat ketika ukuran berbeda dan tidak ada kompromi. Dan anda akan merasa lebih nyaman dalam perbedaan yang terjadi.