Artikel ini ingin melanjutkan artikel sebelumnya yang pernah saya tulis pada akhir tahun lalu. Dalam artikel ini saya mengulas tentang kombinasi penting antara kekuatan pengolahan data dengan kekuatan pengampilan makna dari manusia untuk menghasilkan kemampuan untuk memprediksi masa depan.

Namun ternyata tidak semua orang memiliki kebiasaan untuk menjadi seorang super-forecaster. Saya memilih menggunakan kata kebiasaan (habits) karena kebiasaan merupakan suatu hal bisa dipelajari, dilatih, dan dibangun.

Dari buku aslinya, yaitu Superforecasting: The Art & Science of Prediction, telah dituliskan 10 saran untuk menjadi seorang superforecaster. Di dalam buku ini juga dituliskan ada 4 grup ciri-ciri dari para superforecaster:

  1. Philosophical outlook: Cautious, Humble and Non-Deterministic
  2. Thinking Styles and Abilities: Actively Open-Minded, A need for cognition, Reflective and Numerate
  3. Methods of Forecasting: Pragmatic, Analytical, Dragonfly-eyed, Probabilistic, and Thoughtful Updater and Good intuitive psychologist
  4. Work Ethics: Growth Mindset and Grit

namun saya hanya mengambil beberapa 3 intisari kebiasaan dari apa yang saya tangkap dari buku tersebut. Ketiga intisari yang menurut saya merupakan hal utama yang bisa digunakan untuk menjadi dasar pola dalam menyelesaikan masalah.

Menyusun struktur permasalahan menjadi sebuah pertanyaan besar dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang mendukung jawaban terhadap pertanyaan utama

Didalam sebuah workshop rekayasa sistem yang pernah saya ikuti, sang fasilitator, seorang senior engineer yang pernah merancang modul untuk pesawat luar angkasa Apollo, mengisi setengah hari workshop dengan selalu bertanya “apakah anda sudah tahu apa yang diinginkan oleh pengguna?”. Dan kami di dalam workshop tadi membutuhkan waktu selama lebih dari setengah hari, sebelum akhirnya mengubah kebiasaan kami untuk langsung memasukkan asumsi kedalam desain sistem ke bertanya dulu kepada klien apakah boleh asumsi ini dimasukkan. Di rekayasa sistem, kesalahan terbesar adalah mewujudkan sebuah sistem yang tidak sesuai dengan permintaan penggunanya. Jika ada ketidakmungkinan dalam mewujudkan suatu komponen sistem untuk memenuhi keinginan pengguna maka kita harus selalu mengkonfirmasikannya.

Logika yang sama juga berlaku dalam kasus ini. Dalam menyusun penyelesaian masalah maka kita harus memahami apa yang diminta sebenarnya dari solusinya. Cara terbaik tentunya dengan menyusun sebuah pertanyaan utama yang tepat. Pertanyaan utama ini akan kemudian dijabarkan kedalam pertanyaan-pertanyaan kecil yang memiliki muara terhadap pertanyaan utama ini.

Hal terpenting dalam menyusun pertanyaan adalah sebaiknya selengkap mungkin dengan memasukkan unsur kuantitatif, waktu, geografis, dan aktor. Apakah besok akan hujan yang menyebabkan banjir? dibandingkan dengan “Apakah besok antara pukul 10.00-15.00 akan terjadi hujan dengan curah hujan diatas normal di daerah Bogor dan sekitarnya?” Pertanyaan utama ini akan diajukan lagi dengan pertanyaan kecil “Mengapa tidak semua hujan besar mengakibatkan banjir?” (karena tergantung pasang laut) ” Mengapa banjir tidak segera surut ketika hujan sudah berhenti turun” (karena banjir tidak akibat hujan di Jakarta, tapi hujan di Bogor) dst

Susun hipotesa awal yang tidak berdasarkan atas pandangan internal yang cenderung subyektif, namun dari pandangan eksternal secara obyektif .. dan perbarui hipotesa secara dinamis seiring dengan pencarian aktif akan informasi baru yang relevan

Semua pemecahan masalah dimulai dari sebuah hipotesa awal. Namun hipotesa awal yang baik tidak berdasarkan atas asumsi atau pendapat internal pribadi kita. Hipotesa internal akan tidak obyektif dan kita bisa cenderung terjebak dalam menyaring data untuk menguatkan hipotesa kita, padahal bisa saja data tersebut sebenarnya menolak hipotesa kita. Hipotesa yang baik adalah berdasarkan pandangan eksternal yang sedapat mungkin berasal dari sumber yang obyektif.

Lalu dari hipotesa ini maka dilakukan fine tuning setiap kali kita mendapatkan data dan informasi baru. Kapan kita berhenti melakukan ini dan seberapa jauh kita bisa melakukan ini tidak bisa kesepakatan secara pasti. Saya pribadi menggunakan waktu sebagai batas akhir dengan menggunakan prinsip “do your best”. Artinya bukan berarti karena ada waktu panjang maka kita malah bersantai karena sudah yakin dengan hipotesa kita di suatu waktu. Lalu, apakah kita bisa mengubah hipotesa kita sehingga berubah 180 derajat, menurut saya tidak masalah, namun harus berdasarkan data dan informasi yang kuat. Karena jika mudah maka hipotesa awal kita berarti sebenarnya tidak kuat, jadi bukan hipotesa dong.

Proses iteratif ini harus dilakukan secara obyektif untuk mengurangi jebakan subyektifitas dalam menyusun sebuah hipotesa. Untuk itu prinsip ketiga dibawah ini menjadi penting.

Secara aktif menjaga jarak dari permasalahan … untuk mencari keseimbangan antara berbagai pandangan yang bisa jadi bertolak belakang

Dalam mengambil keputusan termasuk melakukan peramalan, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Kesalahan tersering adalah ketika kita mengambil asumsi bahwa segala hal akan dilihat dalam perspektif kita. Jika Presiden tidak memberikan pendapatnya, apakah Menhub akan melarang Gojek beroperasi? Maka hipotesa pertama yang akan anda ambil akan tergantung seberapa jauh anda pernah atau pengguna aktif dari layanan Gojek. Lah anda kan bukan Menhub, jadi anda harus berpikir ala Menhub untuk menjawab pertanyaan ini, bukan anda yakin bahwa Menhub berpikir seperti anda. Ini contoh jebakan subyektif dalam menyusun hipotesa awal.

Memberikan jarak dalam melakukan analisa merupakan cara terbaik untuk mendapatkan ramalan dan penyelesaian masalah. Tidak hanya ketika menyusun hipotesa awal saja, namun proses iterasi dalam melakukan finetuning hipotesa tetap memiliki bahaya ini. Carilah pandangan multiple perspektif terhadap permasalahan, siapa aktor yang terlibat, bagaimana pandangan mereka secara historis, apa struktur dari sistem (regulasi, norma, kebiasaan, dan persepsi umum), jika kondisi dibalik atau dinegasikan apa yang terjadi. Ini yang disebut dalam buku ini sebagai Dragonfly-Eyed. Mata capung terdiri dari 30.000 bagian yang membuat mereka bisa “melihat” hampir 360 derajat disekelilingnya.

Struktur Tesis-Antitesis-Sintesis bisa digunakan. Hipo-tesis yang dibuat anda saat awal, disusun hipotesis tandingan yang berlawanan (antitesis), lalu setelah keduanya diperhatikan maka diasumsikan timbul pemenang atau kombinasinya menjadi sebuah sin-tesis baru. Sintesis ini menjadi tesis baru, dan proses berikutnya dilakukan.

Selamat Tahun Baru 2016  ;)