Bisa memprediksi masa depan adalah kekuatan tersembunyi dari semua organisasi di dunia ini. Organisasi bisnis maupun pemerintah ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan, supaya mereka bisa lebih kompetitif dibandingkan lawan karena bisa mengantisipasi masa depan. Ini yang membuat saya tertarik membaca sebuah buku yang berjudul “Superforecasting: The Art and Science of Prediction” karya Philip Tetlock dan Dan Gartner. Apalagi ini tepat akhir tahun 2015, yang biasanya akan diisi oleh kegiatan reflektif serta prediktif untuk menyikapi masa depan. Artikel ini terinspirasi oleh salah satu chapter didalam buku ini.

Tumbuhnya teknologi, terutama teknologi komputasi informasi dan komputer, telah membuka sebuah petak baru teknologi untuk memproses data secara masif kemudian mengambil kesimpulan terhadap data itu. Sehingga istilah “Big Data” muncul.

Sebagai ilustrasi, jika anda pengguna media sosial, mengapa kok iklan yang muncul di media tersebut seperti bisa membaca pikiran kita? Kenapa kok seperti kenal kita yaa? Hobi, apa yang kita sukai, apa yang kita tidak sukai seperti terbaca oleh media sosial ini?

Inilah hasil dari Big Data analysis. Setiap Click yang anda lakukan, like, dislike, filter, lama screen terbuka pada suatu bagian website. dan berbagai aktivitas mouse dan keyboard akan di analisa. Suatu ketika ada seorang pengguna media sosial terbesar di Eropa meminta dibuka tentang data apa saja yang dikoleksi selama menjadi pengguna media tersebut melalui pengadilan. Karena jika tidak dituruti maka media tersebut diancam ditutup di seluruh dataran Eropa, maka keluarkan sebuah dokumen cetak sebanyak 1,222 halaman tentang aktivitas pengguna tersebut. Itu belum termasuk foto yang diunggah oleh penggunanya, yang mencapai 300,000 per detik di tahun 2008. Tentunya kemampuan untuk memproses sekian banyak data untuk memprediksi apa yang anda sukai supaya iklan yang diberikan lebih tepat, tidak akan mungkin dikerjakan hanya oleh manusia. Itulah mengapa perusahaan teknologi informasi terbesar dunia telah berinvestasi untuk kemampuan kolektif komputasi yang luar biasa ini. Teknologi ini memang telah berkembang, dan jika di runut, mobile phone yang sedang anda pegang saat ini bahkan lebih canggih dari komputer pertama kali yang berukuran satu lantai kantor penuh.

Maka wajar jika penggunaan konsep big data juga mulai diarahkan untuk memprediksi masa depan atau yang kita kenal sebagai forecasting. Secara natural, kita akan berasumsi karena semakin banyak data yang bisa dioleh dan direlasikan, maka keakuratan prediksi menjadi melonjak dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Toh mesin sudah bisa mengalahkan manusia dalam bermain catur di 1996 dan bermain show permainan TV Jeopardy di Amerika. Jadi mari kita fokus ke data secara obyektif, dan hilangkan faktor manusia yang selalu Baper (Bawa Perasaan).

Namun ada satu hal yang penting sebelum anda memutuskan hanya rely on data untuk melakukan forecasting. Pemrosesan yang luar biasa terhadap data dan keterkaitan data menunjukkan fokus kepada perilaku masa lalu (historical data). Padahal banyak aspek di masa depan yang tidak bisa kita prediksi. Jika kita refleksikan masa lalu, hingga saat ini banyak ekonom yang masih merasa malu dengan ketidakmampuan berbagai model ekonomi mereka memprediksi adanya krisis finansial di Yunani. Saya pribadi juga bingung kok bisa di Eropa, sebagai contoh kemajuan kolektif suatu kawasan, tidak memprediksi hal ini terjadi. Kita juga terkaget-kaget karena kok ada orang bisa berpikir membajak pesawat terbang untuk dijadikan senjata terorisme dengan ditabrakkan ke sebuah gedung.

Apa maknanya? Kebutuhan kemampuan menformulasikan makna dari manusia yang belum dimiliki oleh mesin harus menjadi komplementer utama dari kemampuan komputasi yang luar biasa ini. Jadi kombinasi keduanya penting untuk menciptakan Superforcasting.

Komputer disusun berdasarkan logika manusia. Dia memiliki kemampuan “mimicking” meniru pola yang luar biasa. Namun meniru adalah berbeda dengan kemampuan melakukan ekstrasi makna yang menjadi basis pola pikir atau perilaku yang dilakukan oleh manusia. Ada beda antara “what” dan “why”. Ada beda antara “what best” dan “what ifs”.

Namun sama dengan kekuatan komputer yang juga menjadi kelemahannya, maka kekuatan manusia juga menjadi kelemahannya. Dalam melakukan pengambilan makna untuk mengambil keputusan, manusia juga ternyata memiliki banyak kelemahan yang melimitasi kemampuan forecasting mereka. Kembali kepada buku ini, penulis menyatakan ada beberapa ciri-ciri seorang superforecaster yang ternyata mampu melakukan prediksi yang cukup akurat dan melebihi rata-rata orang kebanyakan.

Saya akan menuliskannya di kesempatan berikutnya, namun untuk kali ini Selamat Akhir Tahun 2015.