Dalam pemilu presiden 2014 ini, saya dan mungkin seluruh bangsa Indonesia yang melek media sosial terkejut-kejut dengan “ledakan” informasi tentang para kandidat presiden begitu mendominasi berita di media sosial. Ada masa ketika membaca berita-berita non-politik menjadi kelegaan tersendiri ditengah-tengah hiruk pikuk ini, walaupun tadinya berita tersebut tidak menarik juga. Terlepas bahwa saya menghargai antusiasme teman-teman media sosial untuk memikirkan dan peduli dengan pembangunan negara kita, sesuatu hal yang membanggakan sebenarnya. Namun ada baiknya kita perlu bijak memandang media sosial sebagai tempat yang kurang tepat untuk menyalurkan semua ekpresi atau pendapat kita. Remember that today Only God forgives and forgets, but the Internet never forgets. Artinya posisi saat ini jangan sampai menjadi “lucu” ketika dilihat secara jangka panjang.

Ada semacam keheranan dalam diri saya ketika melihat teman-teman sangat membela kandidatnya, sehingga ada sebuah pendapat bahwa pembelaan ini seperti orang yang dimabuk cinta. Jadi teringat sebuah lagu karya musisi Gombloh Alm, yang memiliki teks (maaf kalau kasar) “Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat”. Fenomena ini mengingatkan saya, terhadap sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam majalah MIT Technology Review beberapa tahun lalu mengenai pengaruh media sosial yang ternyata bukannya membuka wawasan seseorang, namun malah mempersempitnya. Lho bukankah kita bisa bertemu dengan teman-teman yang berbeda pandangan dan saling berdiskusi?

Pada kenyataannya ternyata tidak, karena dengan berada di media sosial, maka sebenarnya kita sedang mencari teman-teman “seperjuangan” dan “sependapat” dengan kita. Kita secara tidak sadar akan mencari orang-orang yang “sama” dengan diri kita, sehingga bukannya kita mencari orang yang bisa mendebat apa yang kita pikirkan, kita malah mencari orang yang bisa membenarkan kita. Fitur “like”, “unfollow”, “follow”, “hide” dan “unhide” di berbagai media sosial akan menjadi baha bagi komputasi algoritma di belakang layar, sehingga preferensi itu akan menjadi “filter” terhadap informasi apa yang akan diberikan kepada kita. Filter ini wajar, ketika kita memiliki teman yang sangat banyak. Bayangkan anda memiliki 150 teman lalu semuanya dalam suatu waktu singat mempost sesuatu, pasti akan ada 150 berita yang bisa membingungkan kita. Semakin sering kita me”like” seorang teman, maka posting dia akan menjadi prioritas untuk ditampilkan di aliran berita kita. Seiring dengan hide dan unfollow, maka teman tersebut akan “hilang” ke laut aja dari aliran berita kita. Jadi penelitian MIT itu akhirnya menjadi kenyataan, bahwa instead of making new friends, we are stick to old friends. Instead of meeting different people, we are meeting people who are no different than us.

Apa dampak memiliki banyak teman, tapi semuanya “seragam”? Pendapat kita seperti sudah pasti benar, buktinya “semua” teman saya setuju. Kan harusnya kalau tidak benar, ada yang tidak setuju kan? Konsep inilah yang membuat ternyata media sosial bukannya membuka wawasan, namun malah mempersempit wawasan.

Dan yang mengkhawatirkan menurut saya adalah hilangnya kontrol sosial dari keluarga atau lingkungan sosial terdekat lainnya. Dulu ketika kita mengeluarkan pendapat yang salah misalnya, maka keluarga atau lingkungan sosial (sekolah, kampus, arisan dll) akan memberikan mekanisme kontrol dengan melakukan pembenaran dan diskusi bisa terjadi. Paling tidak kita diberi tahu bahwa pendapat kita belum tentu dianggap benar oleh orang lain, sehingga kita bisa mengevaluasinya kembali. Namun di media sosial, kita seperti punya “teman” seperjuangan, sehingga kita seperti tidak terkontrol dalam membangun pendapat kita sendiri. Dan memiliki “teman” banyak membuat kita merasa tidak perlu memiliki teman yang berseberangan lagi dengan kita.

Bangsa kita saat ini sedang belajar demokrasi, namun bedanya jika di Amerika ketika mereka belajar membangun demokrasi, belum ada Facebook atau Path pada saat itu, sehingga bisa lebih bijak melihat politik. Saya hanya berharap bangsa Indonesia juga bisa belajar dengan lebih cepat namun tetap lebih bijak.