Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman dekat yang merupakan CEO perusahaan energi, terlontar sebuah pernyataan menarik tentang persepsi dia tentang fungsi pendekatan rekayasa sistem dalam fase research and development.

Dalam diskusi yang terjadi, kacamata sistem dalam sebuah aktivitas research berarti menguraikan dan memetakan kompleksitas sebuah sistem baru yang akan dirancang. Sistem baru ini dalam dunia usaha adalah usaha baru, market baru, pengembangan produk atau layanan baru yang kompleks dan tidak sederhana.

Peran riset penting karena sistem tidak diketahui bagaimana bentuk seharusnya atau idealnya, akibat tidak adanya sistem sejenis atau setara di dunia nyata. Maklum kan sistem ini baru. Bisa saja sudah ada, namun tentunya yang sudah punya, tidak akan melepaskan resep rahasia sistemnya buat orang lain untuk ditiru.

Dalam langkah ini, seorang perekayasa sistem akan mencoba mengambil berbagai best practices baik dalam suatu komponen sistem dan menginterasikan semuanya menjadi sebuah sistem utuh. Integrasi menjadi tantangan tersendiri bagi perekayasa sistem, karena dalam dunia sistem: the best components is more often producing less than good system as a whole. Contoh sering dipakai adalah pemain basket NBA All Star yang sering kalah karena setiap pemainnya membawa egonya dan tidak mau lebur ke dalam sebuah tim utuh.

Nah jika itu peran riset, maka apa peran development atau pengembangan. Peran pengembangan adalah mencoba menjadikan pemahaman sistem menjadi sebuah template operasional yang bisa direplikasi di mana saja dalam suatu kondisi yang harus disiapkan pula.

Dalam aspek ini, pendekatan manajemen resiko jadi berperan karena aspek ketidaktahuan yang tinggi. Seluruh anggota tim harus diajak untuk membayangkan semua kemungkinan kegagalan yang bisa terjadi melalui imajinasi logis. Semua kemungkinan kegagalan, asalkan logis dan plausible, walaupun terlihat ngaco, harus didokumentasikan dengan baik sehingga menjadi suatu hal yang paling tidak telah diketahui sejak awal jika tidak mungkin menyiapkan diri. Hal ini karena memang sangat mahal hika kita menyiapkan diri untuk mengatasi semua resiko.

Dalam peran ini pula, perekayasa industri harus memegang teguh bahwa bukan “what” yang penting harus dipetakan tapi “why” . Pemahaman why dari rancangan akan sangat membantu ketika modifikasi harus dilakukan karena kondisi yang berbeda antara satu aplikasi rancangan dengan yang lainnya. Dengan menggunakan dan menyimpan why, maka lesson learnt dari semua aktivitas riset dan pengembangannya akan terjaga dan modifikasi menjadi terarah dan terdokumentasi dengan baik secara berkesinambungan.