Tulisan ini sebagai tulisan lanjutan dari  artikel tentang pendefinisian ulang teknik industri untuk menjelaskan fokus pendidikan Teknik Industri di Universitas Indonesia. Setiap Perguruan Tinggi Teknik Industri di Indonesia sebenarnya akan beradaptasi dan memiliki warna yang tergantung dengan kebutuhan, tuntutan serta peluang yang terjadi pada komunitas tempat pendidikan berlangsung. Sebuah fenomena yang sama juga terjadi di negara asal teknik industri, yaitu Amerika. Namun tentunya, ciri-ciri sebagai perekayasa Industri secara dasar harus tetap ada, sehingga warna biasanya terlihat bukan hanya dari kurikulum, namun dari fokus materi dan tugas perkuliahan yang terjadi.

SSE Explanation Slide

Evolusi Perkembangan Teknik Industri

Pada awal berdirinya, teknik industri yang umumnya berasal dari teknik mesin memang berfokus kepada bagaimana meningkatkan proses manufaktur sehingga meningkat produktivitasnya.Pada masa awal ini, perekayasa industri sadar bahwa pendekatan mekanistis (mechanical approach) memiliki keterbatasan maksimum peningkatan produktivitas yang bisa diraih, sehingga mereka beralih ke pendekatan yang multi perspectif namun terintegrasi dengan menggunakan singkatan sederhana 5M: manusia, mesin, material, metode dan money.

Pada masa berikutnya, dengan pengenalan dan meluasnya prinsip dan manajemen kualitas telah melebarkan ruang lingkup kinerja yang tadinya hanya produktivitas menjadi ke berbagai ukuran untuk memuaskan keinginan pelanggan. Berbagai ukuran seperti kualitas, biaya, keselamatan kerja, budaya, berkembang karena diangap secara langsung, maupun tidak langsung berhubungan dengan usaha untuk memuaskan pelanggan. Namun, di masa ini pula, pelanggan dianggap hanyalah sebagai konsumen akhir bukan sebagai partner dalam mengembangkan produk atau layanan.

Kemudian kesadaran timbul, bahwa proses yang harus dikelola harus juga memikirkan proses desain dan setelah produk dijual, ini berarti ruang lingkup pengelolaan meluas ke siklus daur hidup produk  secara lengkap: dari desain, pembuatan, pengiriman dan pemeliharaan produk tersebut. Hal ini membutuhkan cara pandang dinamis antara dua level tingkatan yang dikenal sebagai cara pandang helikopter (helicopter view). Kombinasi ketiga hal ini multi-perseptif yang integratif 5M, kualitas dan daur siklus produk (product life cycle) adalah dasar utama pengembangan kurikulum di seluruh dunia, termasuk di TIUI.

Dengan berjalannya waktu berikutnya, Pendidikan TI melihat bahwa para alumninya ternyata juga sukses menerapkan keilmuannya di bidang non-manufaktur, atau bisa disebut sebagai industri jasa, terutama karena adanya perspektif sistem yang terkandung dalam pendidikan TI. Penterjemahan konsep siklus daur produk juga dilakukan dengan timbulnya konsep siklus daur sistem, sebagai sebuah konsep yang lebih menyeluruh untuk mengakomodir berbagai warna pendidikan Teknik Industri saat ini. Pergesearan ke arah sistem, juga didorong karena produk tidak lagi dilihat sebagai produk, namun sebagai sistem produk+jasa. Hal ini pulalah yang membuat di berbagai kampus di Amerika, nama departemen teknik industri sering berubah menjadi departemen teknik sistem dan industri (industrial and systems engineering).

The [Service+Product] Bundle and Service Oriented Goods

Kata Industri dalam teknik industri, telah memiliki salah pengertian, karena dikonotasikan dengan memproduksi barang atau sebuah sistem manufaktur barang, karena sejarahnya. Padahal pada saat ini, kata industri juga sudah digunakan untuk produk non-barang atau jasa, seperti industri pariwisata, industri kesehatan dan industri pendidikan.

Mengapa ini bisa terjadi? karena kesamaan definisi dasarnya yaitu adalah penambahan nilai (value adding). Proses manufaktur. Di pabrik, anda bisa meningkatkan nilai dari sebuah barang dengan mengubah dan menggabungkan material yang bisa dijual lebih mahal. Sebuah tepung terigu, akan memiliki nilai lebih ketika dijual sebagai mie, dan lebih lagi ketika dijual sebagai mie instan.

Jadi industri dapat didefinisikan sebagai entitas untuk menciptakan, menambahkan dan memberikan nilai tambah yang dibutuhkan oleh pelanggan. Dalam definisi baru ini, maka perekayasa industri perlu mendapatkan pemahaman baru tentang (1) sebuah produk barang tidak lagi bisa berdiri sendiri tanpa ada tambahan dukungan produk jasa, dan (2) bahwa pelanggan sebenarnya tidak membeli suatu barang, namun membeli layanan yang bisa diberikan oleh barang tersebut.

Konsep pertama (1) disebut [product+service] bundle, yaitu sebuah konsep bahwa sebuah produk tidak hanya dijual produknya saja tapi juga layanan lain untuk mendukung penggunaan produk tersebut. Jika anda ingin membeli sebuah mobil misalnya, anda akan diberikan pula layanan service purna jual, peta digital online, asuransi atau kredit bank untuk membantu pembeliannya. Akhirnya kita tidak benar-benar hanya membeli produk, namun juga membeli layanan perbankan, peta GPS, atau lainnya.

Konsep kedua (2) disebut service oriented goods/product, yaitu sebuah cara pandang bahwa sebenarnya sebuah produk tidak dibeli, namun layanan yang bisa diberikan oleh produk itulah yang dibeli.Perusahaan teknologi seperti Samsung dan Apple, tidak menjual perangkat keras handphone saja, namun sebenarnya menjual layanan yang dikonsumsi oleh penggunanya via perangkat keras tersebut. Hal ini mencakup layanan musik, video, buku, majalah dan aplikasi lainnya.

Kedua konsep ini menunjukkan pergeseran pola berpikir yang harus dimiliki oleh perekayasa industri di masa depan untuk mampu memberikan kontribusi positif dimanapun dia akan berkarya nantinya, apakah di industri manufaktur atau industri jasa.

Berdasarkan dua hal diatas, perkembangan Teknik Industri serta pergeseran paradigma [produk+jasa], maka SSE menjadi evolusi tujuan yang logis dari pendidikan teknik industri di Universitas Indonesia. Apalagi posisi UI yang berada di Ibukota Negara, maka peranan sektor jasa juga akan menguat, walaupun kawasan Industri manufaktur masih mengepung di sekeliling Jakarta.

Service Systems Engineering (Rekayasa Sistem Jasa)

SSE didefinisikan sebagai

Rekayasa Sistem Jasa adalah sebuah pendekatan multi disiplin untuk mengelola dan merancang penciptaan bersama nilai (value co-creation) dari sebuah sistem jasa. Pendekatan ini mengembangkan pandangan holistik dari sebuah sistem ke sebuah perancangan sistem secara komprehensif (menyeluruh) dari ujung awal hingga ujung akhir dengan tetap berfokus kepada pelanggan. (international council for systems engineering – incose)

Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa ada 3K dalam SSE yaitu: Konektivitas, Ko-Penciptaan Nilai, dan Komprehensif.

Ko-Penciptaan Nilai

Pergeseran perancangan produk saat ini telah termasuk melibatkan pelanggan dalam penciptaan nilai, baik pada fase perancangan maupun layanan. Saat ini ketika anda mendapatkan gangguan di komputer, maka anda akan mencari di internet untuk mendapatkan solusi dari gangguan tersebut.Anda mencari di forum, blog atau media lainnya untuk melihat bagaimana menyelesaikan permasalahan itu, selain dari website resmi produk. Media sosial juga menjadi pendorong proses ko-penciptaan nilai, karena saat ini rekomendasi produk didapatkan dari testimoni atau diskusi dari media sosial. Kickstarter bahkan melaju di depan dengan menawarkan konsep crowdfunding untuk produk baru yang ingin dikembangkan sebuah perusahaan.  Para “pelanggan pertama” membayar untuk mendapatkan barang pertama yang akan diproduksi, termasuk diantaranya opsi untuk mendapatkan sebagian keuntungan dari penjualan masal nantinya.

Konektivitas adalah basis pandangan holistik

Pandangan holistik dapat dimiliki jika kita mengalihkan fokus dari komponen ke konektivitas antar komponen. Kita akan melihat bahwa ternyata interkoneksi yang terjadi atau yang tidak terjadi telah mengakibatkan sebuah sistem memiliki perilaku yang kita dapatkan. Semakin banyak perkeayasa yang menyadari bahwa konektivitas bisa menjadi sumber diferensiasi dan inovasi baru.

Komprehensif dari ujung desain hingga ke ujung daur ulang atau pemusnahan

Kedua K sebelumnya: konektivitas dan ko-penciptaan akan mendorong kita secara natural melihat seluruh siklus hidup sebuah sistem secara utuh. Masalah yang dihadapi pada sebuah stasiun kerja, bisa bersumber dari stasion kerja sebelumnya. Dengan melihat secara utuh maka produk akan dirancang dengan lebih baik, diproduksi sesuai kebutuhan dan dapat secara bertanggung jawab dimusnahkan dengan dampak lingkungan yang lebih sedikit.