Saya memandang fenomena kepemimpinan yang terjadi di negara kita, baik pada tingkat daerah maupun pusat, ternyata mengerucut dalam 3 hal yang saya sebut sebagai 3Cs of Leadership, yaitu: Character, Competence and Context. Sebuah konsep yang membuat kita seolah-olah selalu memiliki krisis kepemimpinan, tidak hanya secara politik namun juga secara bisnis. Yang saya maksud dengan krisis adalah ketika seolah-olah kita dihadapkan hanya kepada satu pilihan saja atau tidak ada pilihan sama sekali. Buku kuno karangan Warren Bennis, yang dianggap sebagai bapaknya ilmu kepemimpinan modern, on becoming a leader, juga menyoroti hal yang sama terjadi di Amerika. Bukan karena tidak adanya pemimpin, karena kan pasti setiap perusahaan dan organisasi punya pemimpin, namun pemimpin yang berkualitas. Bukan karena tidak ada yang mau jadi pemimpin, namun karena yang cocok jadi pemimpin malah tidak mau menjadi pemimpin dengan berbagai alasannya.

Setelah mencoba untuk mencari tahu tentang berbagai ilmu kepemimpinan, saya sampai pada kesimpulan adanya 4 komponen kepemimpinan penting dalam kepemimpinan, yang akan kita bahas. [sebelum anda merasa bahwa saya membuat kesalahan, karena kan konsepnya 3C, kenapa kok komponennya ada 4? Maka silahkan baca lebih lanjut]

1. Character – Karakter

Karakter merupakan hal pertama yang dibahas ketika orang mulai menyusun konsep kepemimpinan. Pendapat tradisional yang mengakar dimasyarakat adalah bahwa seorang pemimpin adalah dilahirkan, buat dibentuk (leaders are born, not made). Ini karena pendapat ini berlandaskan bahwa karakter merupakan landasan seorang pemimpin, yang memang ada benarnya. Karakter memang seolah-olah merupakan cerminan dalam menentukan pengambilan keputusan. Seorang dengan karakter tegas, akan memimpin dengan tegas pula. Itu yang membuat “ilusi” di negara kita bahwa pemimpin dengan latar belakang militer pasti akan lebih tegas dari bidang sipil. Namun orang lupa bahwa di militer, semua orang dididik untuk patuh kepada atasan, sedangkan di pemerintahan sipil, kepatuhan adalah transaksional, bukan norma. Sehingga pernah ada masa ketika ada persepsi bahwa seorang pemimpin bisnis akan cocok menjadi pimpinan politik, karena sifat transaksionalnya. Namun orang lupa bahwa di bisnis sebenarnya juga ada kemutlakan kewenangan pimpinan, yaitu mereka dengan mudah bisa memecat orang. Anda pernah tahu kemudahan untuk memecat PNS? Hampir amat sangat tidak mungkin sekali. Para pemimpin bisnis ini malah terjebak ke dalam proses transaksional tanpa akhir  karena tidak sadar bahwa there is no such things as “real” win-win in politics.

Ini semua karena karakter tidak bisa kita lihat. Tidak ada layar LCD di dahi manusia yang bisa mengeluarkan deskripsi bagaimana karakter manusia tersebut. Karakter hanya bisa dilihat perilaku dan dari sejarah (history) dari orang tersebut. Dari sisi perilaku, pernah ada artikel menarik yang menulis bahwa ternyata orang yang berpawakan tenang dianggap lebih bisa memimpin daripada yang gampang panik. Padahal seseorang yang tenang itu bisa saja karena telat mikir, nah bagaimana kalau harus mengambil keputusan segera? Maka biasanya yang tenang ini akan “menundanya”, namun karena di tunda dengan “tenang” maka semua orang menerimanya. Dari sisi sejarah, maka kalimat “his-story” menjadi kunci utama peranan media dalam berpolitik, ketika satu story dikuatkan sedangkan satu story dilemahkan. Padahal mungkin saja story yang dilemahkan merupakan hal yang fundamental menunjukkan kemampuan kepemimpinan dibandingkan hal-hal yang dikuatkan.

2. Competence

Kompetensi bermakna kemampuan dalam memimpin. Kemampuan ini memiliki 2 sisi, interpersonal dan manajerial. Interpersonal kearah bagaimana sang pemimpin mampu untuk mengkomunikasikan apa yang dia pikirkan atau inginkan, baik secara individu ke individu atau individu ke kelompok. Manajerial adalah kemampuan untuk mengidentifikasikan akar permasalahan, menyusun dan menjabarkan rencana perbaikan ke seluruh jajarannya, dan mencapai target yang telah ditentukan. Secara sederhana, maka pengelolaan aspek 5M (man, money, machine, material, dan methods) menjadi inti utama.

Kompetensi dapat disarikan dari rekam jejak seseorang, tanggung jawab yang pernah dipegang, cerita dari yang pernah dipimpin maupun yang memimpin, dan lain sebagainya. Ada pendapat bahwa pemimpin tidak harus tahu manajemen, dia hanya perlu tahu apa yang diinginkan (a leader could not know what to do, but he must know what he wants). Saya sebagian sependapat dengan ini, artinya SEBAGIAN adalah kondisi ini hanya terjadi kalau sang pemimpin memiliki tim manajemen yang mumpuni. Namun idealnya, bukan berarti sang pemimpin sama sekali tidak tahu atau tidak mau tahu, karena jika tidak tahu atau mau tahu maka yang terjadi adalah seluruh perbaikan yang akan dilakukan akan bersifat jangka pendek.

Untuk bisa melakukan perbaikan jangka panjang, maka sang pemimpin memang harus tahu bagaimana sistem pemerintahan saat ini bekerja, baik sistem formal dan yang lebih penting lagi adalah sistem informal. Apa saja yang dikategorikan sebagai perbaikan sistem? Dalam pemerintahan misalnya adalah Peraturan, Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi), dan Sistem Penilaian Kinerja (bagi honor tambahan). Namun perubahan ini akan meresahkan karena bersifat struktural, sehingga sang pemimpin juga harus berani memberikan proteksi kepada timnya sehingga bisa berjalan, bukan memisahkan antara tanggung dan jawab. Istilah saya, loyalitas yang dua arah.

3. Context

Konteks adalah kondisi yang melingkupi kebutuhan akan pimpinan. Seorang pemimpin yang tegas dan berani, bisa dipandang bijaksana atau otoriter, tergantung dari konteksnya. Pandangan bijaksana biasanya timbul ketika memang dibutuhkan semacam kepastian dan satu visi sehingga semua orang dalam organisasi tidak lagi tercerai berai. Pandangan otoriter timbul ketika perusahaan sudah oke, dan sang pimpinan dianggap terlaku kaku dengan ketegasannya.

Pernah nonton film Die Hard? Bagi yang menonton versi terakhirnya (Die Hard 4) mungkin lupa bagaimana cerita awalnya si Bruce Willis menjadi seorang pahlawan. Di Die Hard 1 dicerikan bahwa tokoh si Willis merupakan polisi yang mabuk, tidak punya kejelasan mau kemana, dan sebagainya sehingga dalam proses akan diceraikan oleh istrinya (dan bukan karena KDRT, karena udah sebel saja). Walaupun bercerita dengan latar belakang permasalahan keluarga, film ini adalah film laga. Sehingga ketika konteksnya berubah ke arah menyelamatkan nyawa para sandera, si Willis bermetamorfosa menjadi seorang pemimpin yang bisa menyelamatkan semua orang. Inilah konteks.

4. “and”

“and” adalah kombinasi yang terjadi akibat konetivitas antar komponen yang ketika suatu koneksi menguat atau melemah akan menimbulkan hal yang berbeda. Selalu mempertimbangkan “and” merupakan ciri berpikir sistem. Dalam 3C, ketiganya akan berkaitan, dan sumber kaitan yang paling memiliki dampak besar adalah komponen konteks.

Ini mungkin penyebab mengapa kita seperti memiliki pendulum gaya kepemimpinan politik di Indonesia, dari pendiam, ke jago berbicara (bahkan menyanyi), dan berikutnya mungkin dari elitis ke pro-rakyat, yang berikutnya entahlah. Karena dua hal dalam mengamati sebuah konteks, kita cenderung melihat yang negatif dan kita cenderung mengabaikan konteks saat ini. Ini bisa diilustrasikan ketika kita berkunjung ke tempat pembuangan akhir sampah Jakarta di Bantargebang. Anda pasti akan memproteksi hidung dan memandang dengan negatif lokasi tersebut. Namun di negara maju, pengolahan sampah adalah sebuah bisnis yang menguntungkan, dan saat ini pun para pemulung masih banyak yang menggantungkan diri dengan TPA itu. Apakah para pemulung menutup hidung? Tidak, karena mereka sudah terbiasa untuk mengabaikan bau tidak sedap yang keluar dari sampah.

Dan saat ini siapa yang memiliki pengaruh untuk “membentuk” konteks? Media, keluarga, dan pendidikan. Sayangnya kekuatan media hanyalah diarahkan kepada konteks negatif dan jangka pendek, tidak pernah didorong untuk melihat ke konteks jangka panjang. Kita tidak mungkin mengeliminasi konteks, namun yang perlu dilakukan adalah mendorongnya ke arah jangka panjang.

Kekuatan perubahan konteks akan menimbulkan pula perubahan akan kebutuhan kompetensi dan karakter dari seorang pemimpin. Banyak pemimpin yang dalam suatu masa sangat cocok dan terlihat sangat luar biasa, namun ketika “jaman berubah” pemimpin ini menjadi seperti sumbang dan sangat biasa-biasa saja. Seorang pemimpin memang harus memiliki kepekaan dalam menangkap perubahan ini dan beradaptasi untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya. Bukan berarti dia harus meninggalkan prinsip luhur yang menjadi pegangannya, bukan berarti pemimpin yang plin-plan, atau tidak bisa mengambil keputusan (terlepas dari perdebatan apakah prinsip yang dipegang memang wajar untuk dipegang atau dipertahankan). Kompetensi bisa dibangun melalui pengalaman dan pengetahuan, Konteks bisa diterjemahkan berbeda melalui komunikasi yang efektif, dan Karakter merupakan hal yang dikumpulkan dari pemecahan masalah. Jadi bagaimana refleksi 3C kepemimpinan anda?