Dalam acara di UI tentang kepemimpinan yang diisi oleh Pak Jusuf Kalla, sang moderator acara memberikan sebuah komentar menarik tentang definisi tanggung jawab.

Bagi saya, tanggung jawab adalah sebuah kata yang berarti kita harus menanggung sebuah keputusan dengan menjawabnya secara hukum atau publik. Namun sang moderator ternyata bergurau bahwa dalam sistem politik yang populer berbasis media saat ini, tanggung jawab tidak lagi menjadi 1 kata, karena ada orang yang menjawab dan orang berbeda yang menanggung.
Artinya para pemimpin saat ini suka menjawab supaya populer namun akan ada orang lain yang menanggung proses dan akibat dari jawaban tersebut.

Awalnya saya pikir sang moderator bergurau saja, namun akhirnya sadar ini yang terjadi. Saya melihat pemimpin nasional dan daerah yang suka menjawab namun ternyata ketika harus mengambil keputusan berupa surat keputusan tidak mau dilakukan karena takut menanggung dampak politik maupun hukum. Mereka memaksa sang anak buah atau orang lain untuk untuk menanggungnya padahal diluar kewenangan mereka.


Lah ada lagi pemimpin yang ndak mau tanda tangan karena klausul tanggung jawab mutlak, karena tidak percaya sama pekerjaan anak buahnya. Dalam pengalaman saya membangun sistem anggaran apbd, definisi tanggung jawab ini adalah pembuatan sebuah sistem yang transparan sehingga proses yang terjadi menjadi akuntable kepada individu sebagai pemegang jabatannya. Jadi ketika pemimpin harus bertanda tangan dia yakin secara proses penganggaran bisa ditelusuri balik sesuai kewenangan masing masing. Tanggung jawab berarti bukan menanggung kesalahan anak buahnya namun menanggung adanya proses yang benar dan transparan. Jika tidak yakin ama yang sebelumnya yaa silahkan bikin baru, kan memiliki kewenangan?

Diskusi dengan teman2 dekat saya pagi ini timbul sebuah diskusi bahwa ketika kita menjadi pemimpin daerah atau nasional memang harus berani untuk menerima resiko penjara, ancaman pembunuhan dan character assassination for the sake of his/her people.  Lha gimana kalau yang terpilih karena populer, tapi takut masuk penjara karena tidak mengerti arti tanggung jawab yang sehingga membiarkan rakyatnya sengsara dengan macet, banjir dll. Hebatnya rakyatnya yang diminta sabar padahal tidak ada keputusan yg dibuat saat ini yang bisa disabarkan untuk ditunggu hasilnya.

Kapan ya kita memiliki pemimpin yang berani bagi rakyatnya?