Memasuki akhir tahun 2012, Jakarta kembali dihadapi oleh ancaman bencana banjir. Setelah lolos dari ancaman kiamat dunia versi orang maya, akhirnya kita memang harus menghadapi ancaman dampak perubahan iklim. Suatu ancaman yang manusia memiliki kontribusi dengan keborosan kita mengkonsumsi sumber daya alam jauh diatas kemampuannya regenerasi.

Jakarta akan selalu terancam banjir yg memang selama permasalahan sistemiknya belum terpecahkan maka akan selalu menghantui kota ini. Warga Jakarta sebenarnya sudah mampu beradaptasi dengan ini, terlepas dengan hingar bingar media yang suka sekali berita negatif heboh, bencana banjir jakarta merupakan bencana yg relatif “mudah”.

Kenapa? Karena bisa diprediksi, dibandingkan banjir bandang yang tiba-tiba, warga tahu bahwa jika katulampa siaga 2 maka dalam 3 jam akan sampai airnya. Jadi mereka telah memindahkan barang ke lt2. Kenapa ndak mau pindah ke tempat lain? Lah dekat tempat kerja kok, dan banjir paling cuma 10 hari: probabilitas 10/365 ini kecil kan dibandingkan naik bus jarak jauh selebihnya.

Jadi saya tersenyum melihat katanya bisa tanpa paksaan utk memindahkan mereka dan yang penting komunikasi yang baik. Sudah pasti harus dipindahkan lha wong secara hukum memang tidak boleh ada bangunan di bahu sungai.

Geografis Jakarta yang di hilir memang tidak mudah melepaskan diri dari genangan air. Akhir Tahun ini memang curah hujan di wunderground adalah 105cm, artinya setinggi 1 meter, yaa pasti tergenang. Cuma bedanya kalau pemimpin yang dulu pake alasan Tuhan, sedangkan sekarang pake alasan Dewa. Untungnya sang dewa lebih baik, jadi hari berikutnya sudah diprediksi turun ke 5 cm di Jakarta, namun disekitar Jakarta tetap tinggi sehingga bukan genangan tapi banjir.  Walaupun sebenarnya susah dibilang banjir, lja wong memang tinggalnya di bahi sungai yang teorinya memang menampung limpaham air jika kali tidak mencukupi. Di Belanda yang merancang kota ini, bahu sungai memang tidak boleh dipakai utk perumahan. Cuma yaa susah, buktinya BKT saja susah sekali mewujudkan jalur sepeda dll.

Tapi kan demi kemanusiaan harus tetap dibantu dong.
Akhir tahun juga menambahkan kompleksitas tersendiri, karena negara kita mengikuti tahun kalender utk anggaran. Beda dwnga jepang atau masa orde baru yang tahun anggaran adalah april ke april. Jadi saat ini seluruh jajaran pemerintah tidak memiliki uang karena sedang ditarik kembali ke pusat utk tutup buku tahunan.

Lha kalaupun tetap dikeluarkan, maka melanggar aturan anggaran, kena periksa, kena teguran, ditegur atasannya didepan YouTube lagi, bisa masuk penjara dll.

Kejadian seperti inilah yang selalu menjadi siklus tahunan problematika kota ini. Apakah tahun depan akan berulang, sayangnya iya, karena waduk di hulu tidak dibuat, tanpa sea wall maka dalam 2 dekade akan bertambah parah. Dan orang Jakarta memang harus siap beradaptasi dengan semua ini. Gimana kalau kita semua pindah saja?

Happy Holidays and New Year!