Fenomena kurva belajar ternyata tidak saja ditemukan di teknik industri, namun juga ternyata berlaku pada masa transisi pergantian pimpinan daerah yang merupakan ranah politik. Di teknik industri, kurva belajar diajarkan pada kuliah faktor manusia, untuk memberikan pemahaman bahwa setiap produk baru akan membutuhkan waktu sebelum tingkat produktivitas akan menyamai produk lama. Produk baru akan membutuhkan penyesuaian dari operator lapangan untuk mempelajari peletakan, urutan operasi, apa yang perlu diperhatikan dan sebagainya. Perekayasa industri harus menyiapkan diri terhadap penurunan ini termasuk mencari cara agar kurva belajar berlaku dengan lebih cepat daripada kompetitor.

Pergantian gubernur di tempat saya tinggal sarat pula dengan fenomena kurva belajar. Dan saya yakin ini akan menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat jakarta tentang dampak dari pergantian pimpinan dan lebih arif ketika mendengarkan janji-janji para calon yang tampil.
Saya tersenyum ketika dalam masa kampanye ada seorang tokoh masyarakat yang mengatakan menjadi pimpinan dki itu tidak sulit, tidak harus orang pintar. Ada benarnya, namun bagi perekayasa industri lapangan tentu sudah tahu bahwa orang pintar lebih cepat belajar. Sehingga tantangan berikutnya adalah bagaimana supaya orang bisa cepat belajar tanpa harus mempertimbangkan kepintarannya. Bagaimana struktur sistemik sehingga orang lebih mudah untuk belajar dan menyesuaikan diri.

Fenomena akibat sistem negara demokrasi yang kita pilih ini akan ada setiap kali terjadi pergantian pimpinan. Sistem struktur pemerintahan kita membuat seorang pemimpin terpilih tidak mungkin menuangkan janjinya pada tahun yang sama, karena anggaran belaku setahun kedepan. Ini berarti dalam 5 tahun kepemimpinan seseorang sebenarnya dia hanya bekerja efekti selama 2 tahun. 1 tahun pertama belajar, 1 tahun kedua mendapatkan umpan balik, 2 tahun bekerja, dan 1 tahun terakhir sibuk berkampanye untuk berikutnya. Bagaimana dg amerika yang siklusnya 4 tahunan yaa.

Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan institusional memory, yang ada didalam kesadaran kolektif para pegawai pemerintahan. Saya bingung dengan retorika politik yang serba mengancam akan mengganti, menuduh semuanya koruptor, tidak percaya kepada sistem yang ada, karena ini akan mempersulit transfer on knowledge yang baik.

Perubahan adalah kata yang lagi ‘in’, namun saya perlu ingatkan perlu ada kata tambahan, ‘yang lebih baik’ = ‘perubahan yang lebih baik’. Euphoria penggantian masa orde baru, harusnya menyadarkan kita bahwa ternyata tidak semua sistem dalam orde baru perlu diubah, karena ternyata masih baik, bahkan sangat baik. Jangsan berikan kesempatan orang-orang yang berniat buruk untuk melakukan perubahan yang menguntungkan mereka saja. Jangan berubah karena ingin berubah = do not change for the sake of change, namun berubahlah untuk lebih baik.

Pelajari sistemnya, jangan serang dulu karena menyerang akan membuat orang menjadi defensif dan menutup diri. Ketika menutup diri kita tidak akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk, lha wong ketutupan.

Walau bagaimanapun ini bukanlah organisasi swasta, yang anda bisa pecat semua orang kalau anda tidak suka semua orang. Mereka akan berada disitu jauh lebih lama dari anda, dengan pengalaman kebijakan positif yang pasti ada manfaatnya dan perlu dipertahankan.

Namun satu hal yang pasti, kurva belajar mengurangi produktivitas, yang berarti membebani biaya perusahaan. Kurva belajar dalam politik juga sama, bahkan bisa jauh lebih mahal. Dan bagi anda, penduduk di daerah yang baru saja ada pergantian pimpinan, anda sedang membayar mahal untuk proses belajar ini.