Seorang teman yang kebetulan sudah menjadi pemimpin di organisasinya mengeluh karena anak buahnya tidak “loyal” dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kebetulan organisasi yang dipimpinnya ini adalah organisasi pemerintah, jadi agak mengherankan buat saya, karena dalam kinerja penilaian di PNS, loyalitas atasan adalah mutlak setelah kepada bangsa, konstitusi dan Pancasila.

Saya kira, di dalam dunia bekerja, kita akan dan pernah dihadapi pada pertanyaan loyalitas kita ini. Sebagai seorang pemimpin, kita mengharapkan loyalitas dari staf atau bawahan kita terhadap kita, sebagai sebuah sifat profesionalisme. Tapi pertanyaannya adalah apakah anda juga loyal terhadap bawahan anda? Apakah anda melindungi mereka supaya mereka bekerja dengan baik untuk anda? Jika kita mengabdi kepada pimpinan, maka pertanyaan sebaliknya adalah apakah atasan anda juga mem-“pamong” kepada anda? Apakah anda sudah “layak” untuk menjadi pemimpin? dan Apakah anda juga sudah “layak” menjadi yang dipimpin.

Dalam sebuah acara dinamika kelompok outbound ada sebuah latihan menjatuhkan sebutir telur mentah yang digantung dengan seutas tali dari ketinggian tertentu (1-2 meter) ke sebuah keranjang yang diletakkan di tanah. Misi kelompok adalah membuat sebuah konstruksi untuk memastikan bahwa telor tidak akan pecah ketika tali penggantungnya diputus. Setiap kelompok hanya dibekali koran bekas untuk berinovasi menciptakan struktur ini. Kemudian satu orang dipilih untuk menjadi “pemimpin” dan diisolasi, karena akan memotong tali penggantung telornya nanti. Pemotongan tali penggantung mirip dengan yang peresmian event di dunia nyata yang biasanya juga memotong tali atau pengguntingan pita.

Setelah beberapa waktu dan konstruksi kertas koran sudah disusun dengan berbagai macam ilmu yang digunakan: arsitektur, sipil, fisika, kimia, biologi dan terakhir ilmu do’a, (yang tidak boleh ilmu sihir, tapi ini ngeceknya susah), maka dipanggillah sang pemimpin untuk melakukan pengguntingan tali sebagai peresmian. Akan timbul kehebohan dan teriakan dari setiap kelompok melihat jatuhnya telor, ada yang sukses, tidak pecah namun menggelinding keluar keranjang (telornya ikut fitness mungkin, mirip arnold suarasegar) dan ada pula yang gagal total (tidak masuk ke keranjang dan pecah pula).

Diskusi umpan balik setelah permainan yang menarik, kedua pihak: pemimpin dan yang dipimpin, diminta (1) menceritakan apa yang dirasakan ketika akan menggunting tali, kemudian (2) jika dibalik, toh kita semua pernah dipimpin sebelum menjadi pemimpin, serta sebaliknya, setiap pemimpin memiliki pemimpin juga.

Bagaimana perasaan si pemimpin ketika memotong tali? Percayakah dia terhadap pekerjaan anak buahnya? Apa yang dirasakan ketika sukses/gagal? Apa yang ingin dilakukan setelah sukses/gagal? Pasrah nggak atau percaya nggak membiarkan anak buahnya bekerja sendiri?

Bagaimana para anak buahnya: Mereka mau nggak melakukan yang terbaik bagi pemimpin? Jika tidak, mengapa? Ketika bekerja, apakah mereka membayangkan perasaan pemimpin yang akan memotong pita dan ternyata gagal? Apa harapan mereka sebagai yang dipimpin, jika ternyata mereka berhasil atau gagal? Atau jika menjadi pemimpin bagaimana?

Dalam berpikir sistem, kita selalu diajak memiliki helicopter view yang dinamis naik turun dalam memandang permasalahan. Pemimpin memang memiliki peran penting, namun tidak mungkin 100% kesalahan dibebankan kepada pemimpinnya saja, karena hasil pekerjaan merupakan cerminan pula dari siapa yang dipimpinnya. Untuk menghasilkan pekerjaan yang baik maka dibutuhkan loyalitas dua arah, baik dari pemimpin dan yang dipimpin.

Fenomena gunung es ini membuat kita: (1) melupakan memberikan penghargaan kepada anggota tim, dengan hanya menyorot pemimpinnya (2) terlalu berharap kepada pemimpin (baru maupun lama) untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

Jika di masa depan ada transplantasi otak, seorang otak atlit yang dipindahkan ke tubuh seorang yang sangat gemuk, kira-kira apa yang terjadi? Apakah 100% yakin bahwa yang gemuk akan menjadi atlit? Jika memang itu yang terjadi, pasti akan membutuhkan waktu yang lama, dan dalam pemilihan pemimpin di era demokrasi sekarang ini, waktu ini tidak diberikan. Dalam waktu singkat, seorang pemimpin akan dielu-elukan karena membawa janji perubahan, 3 tahun bisa, kemudian dalam hitungan bulan akan dihujati dengan kritik karena kurang cepat, ndak seharusnya begitu dan lain-lain.

Kita cenderung di hipnotis oleh media untuk

  • mendapatkan hasil instan,
  • meminta lebih walaupun yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih baik dari sebelumnya,
  • gitu aja kok sulit – siapa aja bisa (itulah mengapa para pengamat yang pernah akhirnya bersedia memegang posisi tanggung jawab biasanya melunak setelah merasakan sendiri) dst.

Tapi itulah perubahan, bisa berubah lebih baik atau berubah sama saja atau berubah lebih buruk. Tugas seorang pemimpin dan dipimpin untuk terus berusaha lebih baik.

Untuk kepemimpinan saya sangat menyukai kata-kata mutiara ini, yang asli indonesia, dan ketika saya coba menginggriskannya kok terasa berkurang maknanya dan menjadi terlalu panjang menjelaskannya. Terbagi menjadi tiga, dan ketiganya adalah kesatuan, karena tidak ada diantara kita yang berperan hanya satu saja. Kata-kata itu berasal dari Ki Hajar Dewantara adalah:

Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani