Mengikuti heboh mobil nasional yang sedang terjadi saat ini, menarik melihat berbagai macam pandangan dan harapan yang timbul akibat “kerinduan” akan produk dalam negeri. Kerinduan ini dipicu oleh kenapa negara tetangga atau agak tetangga (korea/jepang) berhasil mengembangkan industrinya, walaupun jangan lupa tetangga lain (australia) malah menutup pabrikan mobilnya (masih ingat  mobil merk Holden?).

Apa artinya? technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Tanpa bermaksud mengurangi antusiasme yang menggebu-gebu dari politik dan media, sehingga mungkin berkesan tidak tahu diri, tidak mendukung karya dan inisiatif yang bagus, dst. Saya pribadi sangat menghargai usaha para profesional keteknikan yang berhasil membangun kompetensi yang cocok dengan kebutuhan industri.

Itu mungkin yang membuat para perekayasa industri (industrial engineers) malah tidak banyak suara, karena bingung gimana ngasih tahunya bahwa tidak mudah membangun industri, dibandingkan membuat mobil saja. Takut nanti kalau ngasih tahu, diprotes: kok malah tidak mendukung sih?

Cuma kita juga takut kalau euphoria ini tidak berubah menjadi sebuah dorongan ke pemerintah, masyarakat dan swasta untuk menciptakan iklim mobil nasional. Kita juga takut kalau sudah reda, malah akhirnya kita tidak peduli lagi sama industri kita. Kita juga takut industri otomotif yang sebenarnya saat ini sudah mampu merakit juga malah mundur, karena ketahuan 5 tahun lagi bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia nggak peduli tuh mobilnya dibuat dimana. Jadi mending dibuat di Thailand semua saja yang rantai suplainya sudah lebih mendukung.

Jika kita menutup mata terhadap desain dan teknologi terkini, karena toh hingga saat ini belum ada mobil bertenaga selain bahan bakar (seperti yang diidam-idamkan disemua film hollywood tahun 80an ketika semua mobil sudah menjadi mobil listrik di awal abad 21), maka memang kita sudah bisa membangun perakitan mobil. Tapi persoalan membangun industri tidak hanya kemampuan membuat mobil tetapi ada aspek lainnya .

Sebuah industri sarat dengan standard, layanan jual, kompetensi SDM, pangsa pasar, purna jual, kemampuan desain produk, menjaga rantai suplai, siklus produk (utk mobil 5 tahunan), legal (paten) dan aspek-aspek lainnya. Yang bisa saja dipandang diciptakan untuk menjaga tidak ada pemain baru masuk (barrier to entry), tapi pada kenyataannya memang hal ini nyata diminta oleh pelanggan. Mereka ingin mobil yang enak dipandang, nyaman, aman, perawatannya mudah+murah, dijual lagi harganya masih tinggi. Semua yang diminta ini membutuhkan waktu, konsistensi dan “kesabaran”.

Pemerintah perlu memanfaatkan momentum, belajar dari China dan mampu bersabar konsisten membangun industri ini.

Kita, perekayasa industri, harus terus membuktikan bahwa kita mampu membuat.

Masyarakat juga perlu tetap mendukung dengan tetap membeli produk nasional secara konsisten, karena sederhananya: jika anda protes karena ada pengemis dijalan, coba tanyakan apakah anda sudah membeli produk Indonesia secara konsisten? Karena salah satu penyebab kemiskinan adalah kurangnya lapangan pekerjaan, dan kurangnya lapangan pekerjaan karena tidak adanya industri, dan tidak adanya industri karena pasarnya tidak ada, dan pasar itu tidak ada karena rekan senegaranya tidak mau membeli produk buatan sendiri. Produk dalam negeri sebagian besar pasti akan lebih mahal akibat biaya ekonomi yang juga tinggi, tetapi jika tidak seberapa dan mampu, belilah barang produk dalam negeri.

Namun saya juga belajar bahwa cara lebih efektif untuk mengemukakan di masyarakat tentang hal yang sudah ditakutkan dan disuarakan di kalangan teknik industri mengenai gejala de-industrialisasi nasional ketika masuk ke dunia non-teknik adalah seperti ESEMKA. Menciptakan prototipe produk kemudian dipakai oleh tokoh politik atau mungkin juga tokoh gosip.

Bagaimana apakah boy/girl band I-pop ada yang sudah pesan ESEMKA? Bagus soalnya, pasti khan nggak beli cuma 1, mana muat?