Di kuliah faktor manusia di TIUI, ada tradisi memutar video dari BBC tentang Human Senses. Sebuah serial yg membahas tentang karakteristik 5 panca indera fisik utama manusia.

Ada satu segmen tentang cara kerja mata dan bagaimana mata sebagai sebuah indera yg luar biasa mampu menangkap semua gambar obyek didepan mata. Tetapi kita juga sering mendapatkan ada orang yg tidak melihat apa yg ada dihadapannya, dan kita terheran kenapa kok tidak lihat padahal sudah jelas ada didepannya. Dalam serial ini, terdapat sebuah adegan dimana seseorang berkostum gorilla yang berkali-kali lewat didepan kamera, tetapi hampir seluruh penonton (termasuk saya ketika menonton pertama kali) tidak memperhatikannya walaupun sebenarnya mata melihatnya.

Melihat membutuhkan mata, tetapi ternyata “melihat” lebih banyak merupakan “kerja” otak daripada mata. Mata bertindak sebagai alat untuk melakukan pengambilan gambar, tetapi memberikan makna terhadap gambar adalah kerja otak. Kenapa anda tahu sebuah benda ditangan rekan anda sebuah blackberry misalnya, tetapi bukan sebuah tv atau radio mini. Karena bentuk blackberry direkam oleh otak anda sebagai blackberry, jika anda membawa blackberry ke suku pedalaman yang tidak pernah membaca koran, tv atau apapun, mereka tidak akan tahu jika itu adalah blackberry, karena otak mereka tidak pernah menangkap gambar blackberry dan tidak mengasosiasikannya dengan sejenis smartphone. Mungkin anda anda bisa dianggap dukun sakti karena bisa punya alat yang bisa “mencuri” muka orang dengan kemampuan fotonya, atau malah harus dibunuh karena dianggap dukun jahat yang mau mengambil jiwa mereka dengan memfoto mereka.

Tidak Melihat yang Seharusnya Terlihat: Tidak Mampu dan Tidak Mau

Itulah mengapa banyak orang yang tidak melihat apa yang menurut kita seharusnya mereka melihat. Bisa karena 2 hal utama: tidak mau atau tidak mampu.

Untuk tidak mampu sebenarnya solusinya mudah, yaitu perluas horizon pemikiran anda. Menyadari bahwa otak lebih banyak berperan untuk melakukan proses identifikasi terhadap apa yang kita lihat, maka logika termudah adalah melatih otak untuk melihat apa yang seharusnya bisa terlihat. Perluas wawasan dengan memiliki minat yang luas terhadap hal-hal yang terkait dengan bidang yang anda geluti, terhadap pola berpikir, membaca otobiografi, dll. Di dunia pemasaran, saya pernah membaca konsep “Selective Perceptions”, yaitu secara natural dalam membeli barang kita akan “mencari” barang yang kita kenal, sehingga tugas penjual untuk mengambil perhatian dan “mengajarkan” pelanggan untuk melihat apa yang seharusnya mereka lihat: kalau penjual kompetitor maka kita pengin mengambil perhatian pembeli ke kita, jika penjual adalah produk yang dicari, kita pastikan pembeli tidak sulit mencari produk kita atau “tergoda” untuk bereksperimen dengan produk lain.

Untuk tidak mau yang akan sulit, karena sumber tidak mau bukan hanya karena tidak mampu, tetapi bisa karena memilih untuk tidak mau supaya: lebih mudah, tidak merasa bersalah, atau karena biasanya tidak usah dilihat juga tidak apa-apa, jadi kalau dilihat nanti malah jadi apa-apa. Tidak mau dibangun oleh pengalaman, kesimpulan pengetahuan, ego dan sebagainya, yang oleh de bono diberi nama logic buble.

Kondisi tidak melihat segala hal adalah wajar, karena kita secara terus menerus mendapatkan impulse informasi dari sekitar kita, tidak hanya secara visual, tetapi juga suara, rangsangan kulit, bau dll, yang jika semuanya kita proses secara terus menerus, maka dalam waktu beberapa menit otak kita akan overload  untuk memprosesnya. Ini adalah mekanisme bertahan hidup dari terjangan rangsangan dari luar sana. Pemahaman ini penting ketika anda sudah berusaha memperluas wawasan tetapi masih “terlewat” melihat seharusnya dilihat.

Juga ketika anda menghadapi orang yang melakukan seleksi terhadap apa yang mereka lihat.  Tidak akan berguna sikap marah atau kesal, lebih baik anda fokus untuk mencari cara untuk “memaksa” melihat, atau kata salah seorang guru hidup saya, biarkan sajalah nanti juga akan kepenthok sendiri dijalannya.