I must not fear. Fear is the Mind Killer. (Frank Helbert in “Dune”)

Mengamati permasalahan partai besar pemenang pemilu yang sedang disorot media massa beberapa waktu ini, seperti mengamati drama dengan berbagai adegan babaknya. Yang hebatnya adalah dramanya tidak jelas apakah drama romantis, drama komedi, drama musikal, atau jenis drama lainnya. Tetapi yang jelas ada beberapa adegan yang mirip tujuan sebuah drama horror, yaitu bermain dengan ketakutan.

Ketakutan memang luar biasa. Dari tingkat personal, dia bisa membuat kita mengubah prioritas kehidupan kita. Sejak anda kecil, anda juga dilatih dan belajar dari ketakutan, “awas lho, kalau makanannya nggak habis nanti kamu dimarahin ….” (silahkan diisi: polisi, setan, badut, petruk, atau hal-hal yang bisa menakutkan). Pada tingkat kelompok, ketakutan bisa menyatukan semua anggota kelompok menjadi satu kesatuan komando, tanpa adanya bantahan sedikit pun. Bahkan pada tingkat negara, Michael Crichton pernah menuliskan sebuah novel berjudul “state of fear”, yaitu ketika negara atau kelompok tertentu menciptakan dan mengkampanyekan ketakutan untuk menggoalkan kepentingannya. Dalam film Michael Moore, Capitalism: A love story, yang membahas tentang dampak negatif kapitalisme di Amerika, juga membahas tentang bagaimana lobby orang-orang kaya wall street untuk menciptakan suasana “memaksa” konggres/dpr menggunakan pajak uang rakyat untuk menalangi kerugian mereka.

Menciptakan ketakutan massal mirip sebuah strategi pemasaran berbasis sosial (Social Marketing), yaitu strategi untuk mendapatkan momentum awal adopsi sebuah jasa atau produk, yang dapat mengelinding dengan sendirinya dan diharapkan menciptakan dominasi produk dibandingkan dengan produk lain. Mirip bola salju kecil yang digelindingkan dari atas bukit yang bisa membesar luar biasa ketika sampau dibawah bukit (snowballing effect). Dan inti strategi ini adalah orang yang tepat serta jalur komunikasi yang tepat.

Pada tingkatan negara, media massa memegang kendali utama terhadap kedua jalur ini. Seorang “pengamat” bisa di”terbit”kan jika sering bercerita ”pengamatan”nya di media massa. Sebuah isu bisa menggelinding membesar jika terus menerus diberitakan. Apalagi jika isu tersebut mengandung ketakutan, lebih gurih rasanya. Misalnya, Jakarta terancam akan terkena gempa, bukannya semua kota didunia pasti terancam yaa, lha wong memang kita hidup diatas cairan panas ini bumi yang berputar, dan hebatnya sekarang gempa bisa diprediksi lho, dan tidak perlu ahlinya untuk bisa memprediksi ini.

Salah satu ancaman di tingkat negara yang sering digunakan adalah adanya “musuh bersama”. Banyak pendapat yang mengatakan isu terorisme yang dimulai di negara maju juga termasuk disini. Jadi kalau anda ingin kelompok anda bersatu, silahkan ciptakan musuh bersama, kalau bisa pake nama yang initialnya umum yaa. Saya sih menyarankan di browse ke websitenya kemudian dilihat nama-namanya. Cari yang paling banyak, biasanya “A” seperti nama saya “ahmad”, atau “B” biasanya untuk “bambang”. Jangan “L” atau “W” karena agak jarang, kecuali orang bali. Atau pake yang sering di skripsi “PT X” atau “PT XXX”.

Takut adalah sebuah respon yang tidak bisa kita hilangkan sebagai manusia, karena takut adalah sebuah mekanisme pertahanan diri untuk tetap hidup (survival). Jadi saya tidak menyarankan ada menghilangkan takut. Tetapi yang terpenting tidak membiarkan takut menguasai diri kita, tapi menemani pemikiran kita. Memang ada benarnya kita harus menyiapkan diri untuk masa depan atau kondisi kritis yang bisa terjadi. Ini adalah takut yang wajar.

Tetapi yang penting kita harus waspada untuk tidak diperalat akibat ketakutan yang akan merugikan diri kita pribadi, atau orang-orang yang kita sayangi dan penting buat kita.