Hari ini di kampus, kami kedatangan seorang alumni yang berprofesi sebagai arsitek untuk mencari tenaga teknik industri untuk bekerja di grup perusahaannya sebagai asisten direktur utama yang bertugas meningkatkan efisiensi dan efektivitas usahanya. Sebuah diskusi menarik timbul karena ternyata dia ditugaskan secara spesifik ke TI karena kebutuhan yang mendesak serta pengakuan kemampuan perekayasa industri untuk  menetapkan kontrol utama kepada setiap proses sehingga kerugian akibat ineffisiensi dapat ditekan.

Berita ini menarik saya untuk menulis tentang pentingnya peran pendukung, yang terkadang tidak terlihat di luar atau langsung, tetapi berperan sangat penting dalam menciptakan "konsistensi” kualitas layanan langsungnya. Dan sebagai teknik industri pada dewasa ini, sangat besar kemungkinan anda tidak akan bekerja sebagai pemeran utama klasik sesuai bidang ilmu anda di bidang manufaktur misalnya sebagai PPIC manager, QC atau lainnya. Banyak alumni yang bekerja dibidang jasa atau dibidang manufaktur tetapi berbasis proses kimia (pabrik semen, minyak dan energi, minuman, consumer goods, farmasi dll).

Pada bidang-bidang ini, perekayasa industri memang akan banyak berperan sebagai peran pendukung dan peran pendukung ini jangan dianggap lebih kecil daripada pemeran utama, bahkan peran pendukung sebenarnya jauh lebih penting daripada pemeran utama

Pernah kebayang apa yang terjadi ketika sebuah bahan kunci pemrosesan kimia tidak hadir akibat kesalahan membaca lead time. Ketika sebuah alat ternyata breakdown diluar dari jadwal. Ketika terjadi kebakaran akibat prosedur yang tidak ditaati. Di industri pengolahan minyak, setiap jam downtime akan berujung kepada kerugian ribuan bahkan jutaan dolar.

Secara sederhana bagi mahasiswa, pernah kebayang jika kantin kampus tidak beroperasi? Sekretariat tutup? Fotocopy breakdown? Mau praktikum, bahan bakunya habis?. Semua fungsi ini tidak berhubungan langsung dengan proses perkuliahan atau praktikum, tetapi jika tidak berjalan baik, maka proses utama akan terganggu.

Secara sederhana, “tidak akan ada peran utama, kalau tidak ada peran pendukung”

Yang tidak mengenakkan dari peran pendukung adalah karena bekerja dibelakang layar, maka anda akan jarang mendapatkan pujian, yang sering adalah caci maki jika fungsinya dianggap tidak optimal. Pujian akan selalu diberikan kepada pimpinan atau pemeran utama, yang kalau masih baik dan ingat, ketika diberikan pujian, akan mengatakan “terima kasih kepada staf saya”, tapi kalau lupa, yaa sudah direlakan saja. Terlepas dari itu semua berikut ini adalah peran-peran yang perlu anda gali ketika anda bekerja sebagai peran pendukung,

  • Logistics and Distribution, peran anda memastikan terjadinya: the right items, at the right time, at the right place, at the right amount with the right price. Jika peran ini harus menggunakan pola outsourcing dengan pihak ketiga (3PL=3rd Party Logistics) maka anda biasanya akan menjadi Supply Chain Management.
  • Process Standardization, Improvement and Re-engineering. Tekanan untuk mencapai operational excellence pada setiap lini, akan meminta peran anda untuk menjadi motor pencapaian kinerja yang lebih baik melalui perbaikan proses secara terus menerus.
  • Systems Synchronization. Ketika sebuah sistem operasi atau produksi semakin kompleks maka perlu ada peran untuk melakukan sinkronisasi antara sub-system. Berbagai perusahaan menggunakan ERP (Electronic Resources Planning) untuk mensinkronkan sumber daya.

Peran-peran ini berlaku untuk semua fungsi organisasi, dari SDM, keuangan, produksi/operasi, dan lainnya. Seperti pesan saya untuk setiap mahasiswa saya: Aplikasi ilmu TI sangat luas, anda tinggal perlu melatih diri untuk menggunakan “kacamata” teknik industri anda.