Siang hari di kampus setelah makan siang:

Seorang mahasiswi datang ke rekan kerja saya yang pria, kemudian berkata “Pak, saya positif”.

??????

 

Sering saya kemukakan ketika mengajar bahwa medium komunikasi kita: suara, tulisan, gambar, adalah medium yang sangat lemah untuk mengkomunikasikan apa yang kita maksudkan, karena banyaknya keterbatasan pada medium tersebut dan betapa bergantungnya kita terhadap kesamaan konteks antara pembicara dan pendengar (dalam hal suara misalnya). Sebuah kata kasar bisa menyinggung pendengarnya ketika dalam suasana hati jelek pada suasana formal, tetapi bisa merupakan gurauan pada suasana hati gembira dalam suasana informal.

Untuk itu, sangat penting bagi pemikir sistem untuk memiliki struktur dalam bertanya atau menjawab pertanyaan ketika berkomunikasi, yang akan mengurangi kesalahpahaman ini. Struktur itu dapat disingkat sebagai SPQ&ISA – Situation, Perception, Questions dan Interpretation Structure Answer.

Bertanya dengan SPQ

Situation, uraikan situasi yang membuat anda akan bertanya secara apa adanya (tanpa adanya interpretasi atau pendapat anda terlebih dahulu). Pengantar situasi penting untuk memberikan gambaran bagi penjawab dalam konteks apa anda akan bertanya, sehingga mengurani mis-interpretasi dari pertanyaan anda.

Perception, jelaskan bagaimana menurut anda situasi tadi, disini anda memberikan perspektif anda terhadap situasi, like or dislike, agree or not agree

Questions, pertanyaan yang ingin diajukan

Menjawab dengan ISA

Interpretation, uraikan interpretasi anda terhadap pertanyaannya dan landasan pertanyaannya.

Structure, uraikan proses anda menstrukturkan jawaban dari interpretasi anda terhadap pertanyaan. Pastikan proses anda menjawab diuraikan kepada penanya, sehingga penanya bisa mengerti mengapa anda menjawab pertanyaannya seperti anda akan jawab.

Answer, silahkan dijawab

Tentunya struktur ini juga bisa dipakai ketika seseorang memang hanya bertanya saja tanpa menjelaskan dengan menanyakan “apa yang membuat kamu bertanya seperti itu”, “bagaimana situasi sesungguhnya”, “kamu mikirnya apa?”

Melanjutkan situasi diatas tadi:

Kami berdua terbelalak mendengar pernyataan mahasiswi tadi, apalagi melihat tatapan curiga saya kepada rekan kerja saya, dan sang mahasiswi tetap tidak sadar kemungkinan mis-interpretasi dari penyataan dia.

Pelan pelan rekan saya bertanya “Apanya Positif?”,

dan dijawab “Iya pak, saya positif minta dibimbing skripsi oleh Bapak!”