Topik tentang sustainability yang diterjemahkan bisa ke “keberlanjutan” atau “kelestarian” telah semakin mengemuka di dunia seiring dengan kejadian cuaca buruk dan tidak terduga yang terlihat semakin sering melanda dunia, yang kita rasakan bersama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan tentnag pemanasan global dengan adanya pendapat bahwa peristiwa ini adalah peristiwa “natural” rutin tanpa ada campur tangan manusia, sebagai perekayasa industri, kita semua wajib memasukkan unsur keberlanjutan kedalam fokus perhatian kita.

Kita sadari atau tidak, kita telah menkonsumsi energi dan sumber daya yang semakin lama semakin besar dibandingkan pendahulu kita. Dulu orang membeli daging dengan dibungkus daun singkong (sehingga sampai ada joke kotornya he..he..), sekarang we go to nearest hypermart that use plastics. Plastics use more energy and more non-degradable waste. Jadi adalah tugas kita, untuk menjadi pendahlu dari anak cucu kita, mempertimbangkan gaya hidup dan pendekatan pemecahan masalah. Saya pribadi yakin Perekayasa Industri (Industrial Engineers), memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dalam usaha ini.

Tapi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Setelah membaca berbagai majalah dan jurnal, dan yang terakhir saya sedang membaca special report dari majalah MIT Sloan Management Review: Sustainability as Competitive Advantage, saya tiba pada pada kesimpulan bahwa peranan kita adalah menggunakan pendekatan dan metode di Teknik Industri untuk sebuah target baru (old proven ways with new indicators)

Proven Ways, New Indicators

Jika membaca artikel-artikel yang tersaji, secara pragmatis di dunia industri (dan bisnis) memandang bahwa menterjemahkan keberlanjutan sebagai peningkatan efisiensi dan efektivitas dari seluruh proses bisnis yang mereka jalankan. Proses bisnis ini menyeluruh termasuk mulai dari konsep ide, desain produk, desain proses produksi, peningkatan proses bisnis, rantai suplai, dan pemanfaatan ulang. Terdengar mirip dengan apa yang sudah kita pelajari saat ini di TI yaa? Loh jadi apa bedanya?

Dalam definisi keahlian TI kita mengenal salah satu tugas kita adalah to specify, predict and evaluate the results obtain from the system. Hasil (results) ini biasanya mengacu kepada pengukuran kinerja (performance measurement). Harus disadari bahwa telah terjadi evolusi obyek penilaian kinerja, yang secara tradisional di TI dimulai dari ukuran biaya, yang berkembang menjadi ukuran produktivitas atau lebih baru dan lebih multidimensi adalah ukuran Balanced Scorecard. Ukuran-ukuran ini diciptakan pada awalnya adalah untuk menghilangkan fokus yang berlebihan kepada ukuran keuntungan atau profit, yang dikenal dalam istilah lapangan sebagai “bottom line”.

Jika orientasi hasil kita ubah ke arah keberlanjutan, maka the bottom line perlu diubah menjadi 3 Bottom Line.

3BL – 3 Bottom Lines

Istilah 3BL – 3 Bottom line diperkenalkan pertama kali oleh Elkington yang berargumentasi bahwa pelaku industri tidak lagi bisa hanya berfokus kepada 1 Bottom line yaitu profit (keuangan – ekonomi), tetapi juga harus mempertimbangkan 2 aspek lainnya yang perlu menjadi tambahan “bottom lines” yaitu aspek lingkungan dan aspek sosial, sehingga menjadi 3 BL. Aspek lingkungan mencakup emisi gas rumah kaca, carbon footprint, dan dampak lainnya. Aspek sosial mencakup kontribusi kepada peningkatan status sosial masyarakat terutama yang ada didaerah produksi atau yang terkena dampak dari usaha kita. Hal ini mencakup kontribusi kepada kesehatan, pendidikan, budaya dan nilai-nilai sosial lainnya. Aspek sosial inilah yang mendorong popularitas dari GCG (Good Corporate Governance) dan CSR (Corporate Social Responsibility)

Industrial Engineers, let’s become sustainable agents

Saya mengajak seluruh perekayasa industri untuk start thinking about sustainability. Tidak usah bingung-bingung bahwa ini adalah “ilmu baru” yang perlu sekolah lagi. Anda hanya perlu melakukan orientasi ulang atau fokus baru terhadap apa yang akan diukur dari usaha peningkatan efisien dan efektivitas anda, yang tadinya hanya produktivitas sekarang menuju ke multi dimensi keberlanjutan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.

Anda tinggal mengasah konsep ukuran sosial dan ukuran lingkungan. Untuk ukuran sosial, fokusnya adalah pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup. Pendidikan berarti anda bisa melihat peningkatan pengetahuan dari tim kerja anda, bawahan anda dan sebagainya. Kesehatan berarti seberapa jauh anda memperhatikan tingkat kesehatan, tidak hanya fisik tetapi juga mental. Kualitas hidup berarti kombinasi akhir yang ingin dituju yaitu apakah kita sudah “bebas” mendapat hak kita sebagai manusia. Saya menyarankan anda untuk membaca konsep MDG (Milennium Development Goals) untuk melihat cara menjabarkan ukuran ini.

Untuk ukuran lingkungan, biasakan (familiarize) diri anda terhadap istilah dan maksud dari gas rumah kaca, yaitu kelompok gas-gas yang dianggap akan berdampak kepada perubahan iklim (jadi tidak semua gas maksudnya, karena gas tubuh misalnya tidak berdampak lingkungan,😉 ). Saya menyarankan untuk membaca berbagai bahan yang dikeluarkan oleh UNEP seperti protokol kyoto dan lainnya, yang sudah cukup membantu.