Saya sangat sering mengikuti diskusi perdebatan yang cukup “meriah” tanpa ada yang menyadari bahwa yang diperdebatkan adalah asumsi, bukan fakta. Serunya, terkadang asumsi lebih menarik untuk diambil kesimpulan daripada faktanya. Mungkin ini penyebab kenapa kok acara gosip di Indonesia sangat populer, dan meminjam istilah orang Jakarta, acara gosip “kaga’ ada matinye”.

Asumsi adalah “pengisi celah” pada data. Saya kira kita selalu dalam kondisi informasi yang tidak lengkap ketika akan mengambil keputusan. Ketidakadaan informasi lengkap ini kita tutupi dengan asumsi. Asumsi dibangun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita, bukan berasal dari data. Sedangkan pengalaman atau pengetahuan dibangun terkadang tidak oleh kita sendiri, tetapi oleh orang lain yang “ditularkan” kepada kita.

Jangan letakkan asumsi sejajar dengan data fakta, tetapi harus ada bobot berbeda, dan ini harus disadari bersama jika dilakukan dalam sebuah rapat untuk mengambil keputusan.