Istri saya mengemukakan kesimpulan pengamatannya yang menarik ketika makan siang hari ini, yaitu apakah karena kita berbeda pendapat maka kita berarti bertentangan? Sebuah pertanyaan yang menarik pada masa “pendewasaan” kebangsaan Indonesia, yang sedang tumbuh dengan semakin besarnya pengaruh media yang tidak lagi bisa dikatakan netral. (kalau dipikir-pikir, ada nggak yaa di negara manapun dunia ini, yang mengaku demokratis, media nasional yang benar-benar netral?)

Kasusnya sendiri bukan dipicu oleh kasus nasional yang ada saat ini, tetapi lebih “mikro”, yaitu keluhan ibu mertua saya yang bingung sama ketua organisasi sosial yang diikutinya ketika mengambil beberapa keputusan yang memiliki dampak organisasi tetapi tidak melakukan usaha untuk meminimalisasi dampak ini. Bahasa singkatnya: melarang ini itu yang berakibat organisasinya nggak bisa berbuat apa-apa, tetapi tidak ngasih jalan keluar. Ibu mertua saya ingin mendebat atau mengemukakan pendapatnya tetapi takut karena “berbeda” nanti dianggap menantang, apalagi ngerasa sendirian.

Memang dalam dunia politik dan media, kita digiring untuk menjadi lawan atau kawan dari suatu isu, padahal mereka tahu bahwa tidak ada kondisi politik yang benar-benar hitam dan putih, semua memiliki gradasi warna yang halus. Semua yang hitam mengandung putih, semua yang putih mengandung hitam.

Apa artinya? kita seperti sedang diajarkan bahwa berbeda itu berarti menentang, padahal berbeda memiliki pengertian yang jauh beda dengan menentang apalagi menantang. Berbeda adalah berbeda. titik.

Berbeda memiliki makna positif, yaitu ada yang kritis dan ingin mengetahui logika pengambilan keputusan. Berbeda memiliki dampak positif, yaitu membuka kesempatan untuk melakukan dialog dan argumentasi sehat untuk saling mengeksplorasi perbedaan pendapat.

Berikanlah kesempatan untuk berbeda, tanpa harus menganggapnya menentang.