Dalam berpikir sistem kita menyadari bahwa sebuah data yang sama bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang berbeda. Illustrasi yang sering saya berikan di kelas adalah pengalaman pribadi saya ketika mengantar seorang professor dari Jepang yang ingin melihat langsung pasar “tradisional” di Indonesia. Ketika saya malu mengantarkan dia berdarmawisata di pasar, dia dengan santai mengatakan kepada saya, “you are lucky, you have so many rooms of improvement here” : Anda beruntung, anda punya banyak sekali kesempatan untuk memperbaiki disini. Kebetulan profesor ini juga seorang ahli kualitas, dan mencari topik kualitas di negara dia mungkin lebih “sulit” daripada di negara kita. Jadi: Same Data, Different Conclusion.

Proses pengambilan kesimpulan ini disebut proses tangga inferensial (ladder of inference), yaitu dari data yang netral ke proses-proses pengolahan data yang sangat subyektif dan terkadang emosional. Inferensial didefinisikan adalah prose pengambilan keputusan dari data yang kita berikan. Kita akan membahas proses-proses selanjutnya dalam tulisan yang lain, tetapi saya ingin memulainya dengan proses awal yang sangat penting yaitu ketika data pertama kali hadir didepan kita untuk kita simpulkan.

Data adalah netral dan merupakan fakta. Data bagaikan kertas putih yang terserah anda mau dibiarkan putih atau mau dibuat hitam semua atau warna lain. Data seperti statistik tentang jumlah pria yang setuju poligami misalnya, bisa berujung pada kesimpulan yang berbeda, tergantung “pendapat” awal anda tentang poligami, mungkin juga jenis kelamin anda, mungkin juga kepercayaan anda, atau nilai keluarga anda.

Tetapi kita seringkali terperangkap untuk mengambil kesimpulan dari “cara” orang menyampaikannya. Berita yang baik bisa menjadi kesimpulan buruk karena cara orang menyampaikannya, intonasi bicaranya, . Berita yang “terdengar” buruk, bisa menjadi positif ketika yang menyampaikannya memberikan informasi “tambahan”” yang menyejukkan. “Mulutmu adalah harimau-mu” mungkin istilah lain yang bisa digunakan untuk menggambarkan betapa cara atau intonasi menjadi penting ketika berbicara. Jika anda insan media TV atau radio, then voice is everything. Saya bahkan mendengar bahwa para pembawa acara berita di-”wajibkan” memotong pembicaraan pembicaranya dengan pertanyaan yang seringkali memojokkan, supaya terlihat aktif dan “kritis”. Suatu hal yang kontradiktif, karena hampir disemua teknik diskusi yang baik, kita dilarang untuk memotong pembicaraan orang lain. Bagi saya, jika teknik ini benar dilakukan, sangat tidak menunjukkan budaya ketimuran Asia.

Kebebasan media bukan berarti bebas dari pengaruh, adalah sifat intrinsik manusia untuk ingin mempengaruhi orang lain, ingin agar pendapatnya yang diterima, ingin agar apa yang dia anggap penting juga dianggap penting orang lain (itulah kenapa namanya kepentingan khan). Sadari ini, sehingga anda tidak terjebak untuk ikut menganggap penting yang seharusnya tidak penting.

Perlu anda ketahui pula bahwa repetisi adalah cara yang lazim dipakai dalam berkomunikasi untuk menekankan suatu hal, sehingga hal tersebut seolah-olah menjadi penting. Cara ini juga saya pakai dalam perkuliahan, dengan menyampaikan hal-hal yang penting berkali-kali. Tetapi belum tentu yang direpetisi memang suatu hal yang penting. Jika anda melihat televisi nasional saat ini, repetisi menjadi “makanan” sehari-hari kita, sehingga karena kita “sering” melihatnya padahal apa yang kita lihat sebenarnya adalah hal yang sama (data yang sama) yang diulang-ulang terus menerus, sehingga seolah-olah adalah hal yang penting.

Inti tulisan ini adalah tangkaplah data atau pesannya, jangan terbawa emosi dari cara penyampaiannya atau orang yang menyampaikannya (focus on the message, not the tone and the messenger). Latihlah diri anda untuk berpikir jernih untuk bisa membedakan antara keduanya, sehingga anda tidak terjebak untuk mengambil kesimpulan yang bisa merugikan anda. Memiliki pandangan helikopter (helicopter view) yang dinamis, baik dari sisi waktu (jangka pendek dan jangka panjang) atau geografis (disini dan disana), sehingga anda bisa mengambil kesimpulan sendiri, termasuk kesimpulan apakah ini penting atau tidak penting, bukan karena orang lain tetapi karena anda yang memutuskan ini adalah penting.

(Ditulis di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, on Our Parents 38 Wedding Anniversary, Jan 30, 2010. Happy Anniversary Mom & Dad!)