“Menikmati” perjalanan pagi ke kampus beberapa hari yang lalu, saya dihujani oleh pemandangan yang “asyik” dari para pengemudi kendaraan bermotor yang memasuki jalur busway (atau bahasa aslinya dedicated buslane), saya jadi bertanya-tanya, kenapa yaa kok mereka melakukannya?

Sebelumnya perkenalkan prinsip saya dulu, saya punya prinsip pribadi yang mengatakan kalau orang berbuat salah, maka yang pertama kali yang harus saya cari tahu penyebabnya adalah kenapa sistemnya “membiarkan” dia salah, bukan menyalahkan pribadinya terlebih dahulu.

Nah, saya baru sadar bahwa konsep “pencegahan” yang biasa kita lakukan memang cenderung ekstrem, kita mencegah supaya orang tidak bisa melakukannya. Kita belum mencapai titik dimana orang tidak boleh melakukannya. Mirip kalau anak kecil dirumahnya mau dilarang makan permen yang tersaji di meja, buat tamu alasannya. Maka kita menyatakan tidak boleh, kalau si anak ini terdidik dengan baik, memiliki nilai pribadi yang ditanamkan dengan kuat, maka yang terjadi dia akan menuruti larangan tersebut (tidak boleh). Tapi cara lainnya ada, yang tidak bisa, yaitu bagaimana kalau anak tersebut kita ikat atau kita kurung dikamar.

Dalam kerangka berpikir sistem, yang satu adalah batasan yang bersifat non-fisik, sedangkan satunya batasan yang bersifat fisik.

Tidak Bisa lebih mahal biayanya dari tidak boleh, usaha yang harus dilakukan untuk melakukan tidak bisa lebih besar. Busway membutuhkan infrastruktur fisik yang dibangun dan dipelihara. Halte busway didesain tinggi untuk “membisakan” orang antri dengan tertib dan nggak merasa di halte biasa yang bisa dijadikan tempat untuk membuang kotoran. Portal dibuat tinggi sehingga kompleks rumah seperti kompleks narapidana. dan sebagainya. Security check menggunakan metal detector (alat untuk mendeteksi semua penyuka musik metal atau fan group metallica ..;-)

Negara tetangga kita, Singapura, berhasil menggunakan sistem dimana dia menakuti orang banyak tanpa usaha yang banyak pula, yaitu menerapkan sistem denda. Denda tersebut dipatok semakin tinggi, sehingga terjadi proses perdebatan internal individu jika dia ingin melanggar. Mereka bahkan bangga dikenal sebagai “fine city”/kota denda, karena berarti orang “takut” akan denda. Untuk merefresh memory, setiap minggu, disana akan di”pilih” para pelanggar untuk diberitakan dimedia, mengingatkan warganya bahwa “ingat, masih ada denda loh, dan yang melanggar kita tindak”.

Konsep denda dikenal di negara kita, tetapi hampir semuanya dalam bentuk “setinggi-tingginya”, jadi menjadi semacam tingkatan yang berbeda-beda. Orang biasapun tahu bahwa istilah itu berarti akan jarang dipakai, mirip tiket pesawat yang baru tinggi bener kalau udah kepepet atau peak season. Perlu ada mekanisme dimana denda akan naik secara otomatis setiap 3 tahun berdasarkan inflasi.

Saya bukan berarti mengkritik “harus bisa” atau “pasti bisa” yaa (Prita Mode – on – Mode takut mencemarkan nama baik). Saya termasuk percaya bahwa peraturan seharusnya dibuat untuk memberi jalan buat hal yang baik, bukan untuk “melindungi” hal yang buruk. Jika suatu peraturan ternyata menghambat atau menghalangi hal yang baik untuk bisa dilakukan, maka peraturan tersebut secapatnya diperbaiki.