Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan percakapan di radio yang sedang membahas tentang ditegaskannya kembali bahwa belok kiri harus mengikuti rambu. Jadi kita baru boleh belok kiri langsung kalau ada rambu khusus boleh kiri atau traffic lights khusus kelap-kelip kiri maka baru boleh langsung. Jika tidak, maka tidak serta merta langsung. Dendanya nggak tanggung-tanggung sudah “disepakati” yaitu 250rb rupiah.

Tetapi terlepas dari perdebatan soal sosialisasi atau denda yang sudah “dipatok”, saya ingin membahasnya dalam kerangka ilmu teknik industri. Saya jadi teringat tentang artikel yang membahas soal penghematan BBM dari sebuah perusahaan angkutan barang di Amerika yang unik, yaitu dengan melakukan optimasi rute pengirimannya sehingga menghindari sedapat mungkin mesin idle (nyala tapi tidak bergerak) akibat menunggu traffic lights di perempatan jalan. Perusahaan angkutan barang itu UPS namanya (United Parcel Services), konsep ini bahkan dikenal sebagai “UPS always turn right”. Ingat di Amerika, orang mengemudi di sebelah kanan, jadi belok kanan adalah mirip dengan belok kiri disini, dan kebetulan hampir di seluruh negara bagian di Amerika belok kanan boleh langsung. Jadi kebalikannya di Indonesia, yang tidak boleh belok kiri langsung.

Memang jika dihitung satu mobil, maka seolah-olah tidak signifikan, tetapi UPS memiliki puluhan ribu kendaraan dan ratusan ribu paket yang harus dikirimkan perharinya, sehingga mesin idle menjadi signifikan. Jadi jika terlalu sering berhenti di perempatan nunggu lampu merah, maka bayangkan bensin yang terbuang. Kalaupun di beberapa negara bagian masih mengatur belok tidak langsung, ternyata “jarak” membelok kanan yang harus ditempuh lebih sedikit dari membelok kiri. Mirip di Indonesia, jika anda belok kiri radius belok kirinya lebih kecil dari radius belok ke kanan.

Bagaimana UPS bisa melakukannya, karena sebagian besar paket diterima dan diproses secara elektronik dan setiap kendaraan telah memiliki GPS dan alat komunikasi. Dengan peta digital yang lengkap di setiap kota di Amerika, maka kalkulasi dapat dilakukan secara realtime dengan server mereka dengan mempertimbangkan rule “always turn tight”. Tentunya tidak mungkin “always” tetapi katanya hampir 90% dapat dipenuhi rule tersebut. Termasuk apabila terjadi perubahan rute karena harus mengambil paket dari pelanggan. Pelanggan akan order secara on-line, dicheck apakah ada truk UPS didekatnya, dicari rute optimum hingga akhirnya si petugas akan diminta untuk mengambilnya.