Kita semua pasti memiliki comfort zone (Zona Nyaman) masing-masing. Makna dari kata zona ini adalah bisa berupa sebuah zona geografis yang riil, bisa juga yang tidak riil .

Zona yang riil contohnya adalah rumah kita, tempat bekerja, kota atau negara kita. Kita udah terbiasa di zona ini, kita tahu jalan harus kemana untuk membeli makanan dan stok dapur. Mau beli kertas, tahu angkutan mana yang harus diambil. Jalan ke kampus atau tempat kerja juga yang itu-itu saja.

Zona yang tidak riil (virtual) adalah yang berada didalam otak kita. Jika anda lebih suka mengerjakan yang anda sudah ketahui dan tidak mau menyentuh atau mencoba yang tidak adan ketahui maka inilah contoh lain dari comfort zone yang tidak riil.

Apa yang kita pelajari (pengalaman), apa-yang-kita-tahu (pengetahuan) dan apa-yang-kita-pikir-kita-tahu (imajinasi) adalah yang membangun zona virtual kita. Dizona ini kita akan nyaman. Kita akan merasa bahwa apa yang tidak kita tahu, tidak akan menyakiti kita. dan ini akan mempengaruhi pola persepsi kita dalam memandang masalah, mana yang kita anggap penting atau tidak penting.

Memiliki zona nyaman adalah baik, karena ada masa-masa dimana tekanan kepada diri kita sangat tinggi sehingga kita perlu “kembali pulang”. Tetapi selalu berada dalam zona nyaman, akan membuat diri kita “tumpul”. dan ini membuat anda tidak kompetitif, baik dalam bekerja maupun dalam belajar.

Mirip seorang ahli silat, tentu jika anda hanya memiliki satu jurus saja, walaupun jurus itu adalah jurus pamungkas, akan ada suatu masa dimana jurus tersebut akan menjadi tumpul dimakan jaman. Kenapa? Karena dunia berubah dan terus berkembang. Semua jurus pamungkas anda pasti akan tewas seandainya anda ditembak oleh pistol (produk teknologi) atau flu babi (produk evolusi alam).

Itulah kenapa anda perlu memiliki berbagai macam jurus, mencoba hal baru, “menantang” jagoan diluar, harus “kalah” dulu (kekalahan itu menjadi alat pembelajaran terbaik dibandingkan kemenangan). Seluruh pendekar silat dalam cerita Kho Ping Ho juga selalu diawali oleh “turun gunung”, keluar dari comfort zone kita.

Dengan keluar dari comfort zone, maka kita sebenarnya sedang membangun comfort zone baru yang lebih luas, lebih banyak jurus, sehingga kita bisa lebih siap dibandingkan dengan orang lain.

Di organisasi, terkadan dibutuhkan orang-orang yang memiliki comfort zone yang luas. Itulah kenapa ada beberapa interviewer menghargai mahasiswa yang pernah berprestasi lomba, ikut pertukaran pelajar, berbahasa lebih dari 1 bahasa, pengalaman organisasi dsb. karena ternyata inilah ciri-ciri orang mau untuk mengembangkan comfort zonenya.

Kenapa saya menuliskan artikel ini? karena saya khawatir (termasuk kepada diri saya sendiri) bahwa saat ini kita semakin punya banyak alasan untuk memperkuat comfort zone kita. Secara terus menerus, baik sadar maupun tidak sadar, kita menciptakan dan memperkuat comfort zone yang kita miliki. Ledakan interkonektivitas di dunia maya akibat dengan murahnya telekomunikasi via internet, membuat kita bisa menemukan teman-teman yang memiliki comfort zone yang sama sehingga seolah-olah menjustifikasi untuk tidak keluar dari comfort zone ini.

Aplikasi jejaring sosial seperti facebook, myspace dll membuat anda memiliki tempat untuk dari kelompok klub yang baik, sampai kelompok klub yang “aneh”. Perasaan bahwa kita memiliki “banyak teman” yang “sama” membuat kita merasa tidak perlu berubah, padahal perubahan itu perlu.

Jika saya memotivasi mahasiswa untuk lebih maju atau lebih baik, maka telah ada alasan baru: Saya punya “banyak” temen yang berpikir sama dengan saya, kenapa saya harus berubah?  Toh mereka baik-baik saja, jadi saya pasti akan baik-baik pula.

Memang banyak jalan menuju Roma, pertanyaannya: apakah jalan anda akan sama dengan “teman” anda, atau akan lebih jauh, lebih mutar, lebih berbatu, dan lebih berbahaya? Siapkah anda?