Tulisan ini merupakan serangkaian tulisan, dalam rangka mendefinisikan Standard Kompetensi Lulusan Teknik Industri, yang diamanatkan oleh UU Sistem Pendidikan Nasional.

Dulu ada senior saya yang menterjemahkan kompetensi menjadi ke”bisa”an. Penterjemahan ini menarik, karena “bisa” melakukan suatu tugas memang merupakan salah satu bukti bahwa anda memiliki kompetensi dalam melakukan tugas tersebut. Tetapi “bisa” merupakan sebenarnya merupakan penilaian dari kompetensi, bukan kompetensi itu sendiri.

Untuk bisa melakukan sesuatu di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) – PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.

Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap.

Sehingga kompetensi dapat didefinisikan dengan sebuah deskripsi persyaratan standard dari seorang individu berbentuk ramuan antara pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu.

Jika dibagi 2 definisi diatas maka penjelasannya adalah berikut

(1) Deskripsi persyaratan standar dalam bentuk KSB/PKP maka dalam penyusunan deskripsi tadi mengacu kepada 3 dimensi yaitu

Tingkatan pemahaman pengetahuan (biasanya digunakan bloom taxonomy) yang dimulai dari I know, I understand, I can apply, I can analyze, I can synthesize, and I can Evaluate untuk satu atau beberapa pengetahuan. Tingkatan untuk keterampilan adalah insting berlogika dan insting otomatis. Sedangkan tingkatan untuk perilaku adalah pasif, responsif, kesadaran nilai, konseptualisasi nilai, proaktif.

(2) untuk dapat melakukan tugas yang spesifik dalam tingkat kinerja tertentu

Sebuah tugas (yang biasanya lekat dengan jabatan) harus memiliki deskripsi yang jelas karena jika tidak akan sulit mendefinisikan kompetensinya. Tugas “menyediakan makan siang buat staf” bagi seorang office boy mungkin akan bervariasi dari masak sendiri, order delivery hingga beli di warteg langsung.

Tingkat kinerja tertentu merupakan bentuk ukuran kinerja yang diharapkan dicapai. Sebaiknya menghindari kata-kata abstrak seperti “baik”, “sempurna” yang bisa memiliki standar berbeda tergantung dari persepsi penilainya. Ukuran kuantitatif seperti “% benar” atau “% selesai” mungkin lebih baik.

Bedakan kompetensi dan kompeten. Kompeten merupakan sebuah “predikat” yang kita berika kepada seseorang yang berhasil meramu KSA yang dimilikinya untuk melakukan tugas tertentu. Tentunya tugas tersebut telah memiliki sebuah standar kompetensi tertentu. Kompetensi=kriteria KSA.

Pendefinisian kompetensi tidak bisa lepas dari definisi dari “saudara”nya yaitu kapabilitas (capability), yang jika diindonesiakan disebut sebagai mampu. Sebuah diskusi yang menarik adalah jika anda menganggap seseorang mampu apakah berarti dia adalah kompeten(/bisa)?

Menurut saya kapabilitas (/kemampuan) adalah kapasitas, dimana didalam kapasitas bisa berkembang tidak hanya melalui pengembangan KSA tetapi juga pengalaman. Semakin banyak dan beranekaragam pengalaman yang dimiliki maka kapabilitas akan meningkat. Kapabilitas=Kapasitas+Pengalaman.

Kapabilitas mirip modal, yang dapat disalurkan dalam berbagai variasi bentuk untuk melakukan tugas yang belum pernah dilakukan (unknown task)