Cari

Hidayatno's Weblog

An industrial systems engineer who like to make any system better

LRT dan MRT … dan Rekayasa Sistem

Pagi ini membaca sebuah artikel tentang mogoknya LRT di Sumatera yang terjadi yang terjadi sering dalam satu minggu kembali mengusik kenangan diskusi di masa lalu di PT MRT Jakarta tentang pentingnya perspektif rekayasa sistem untuk meningkatkan kesiapan operasional bahkan dalam sebaiknya sudah dimulai dengan fase konstruksi.

Ketika sebuah sistem kompleks dibangun maka sebuah ciri sistem akan mengemuka, yaitu kumpulan dari komponen terbaik belum tentu menghasilkan sebuah sistem terbaik, terutama jika tingkat konektivitas sistem tinggi. Yang dimaksud dengan tingkat konektivitas adalah secara kuantitas (prosentase setiap komponen terkoneksi dengan yang lain) dan kualitas (ketika koneksi yang terjadi didesain atau tidak disadari mampu membuat sistem berhenti).

Dalam kasus LRT diatas, sebuah door sensor didesain untuk menghentikan kereta karena berbasis keselamatan penumpang, jangan sampai ada yang bisa meloncat ketika kereta sedang berjalan. Namun, semoga door sensor itu tidak dimatikan, karena dianggap malah mengganggu operasional kereta dan dianggap tidak penting. Sesuatu kebiasaan di negara kita untuk mencari quick fix daripada masuk korang terus menerus (ini juga gejala permasalahan sistem).

Rekayasa sistem secara sederhana adalah sebuah komitmen untuk menselaraskan konektivitas sistem sejak dari perancangan, mengawalnya ketika operasional, serta memperbaiki rancangan berikutnya melalui pengalaman operasional. Di organisasi membuat sebuah tim khusus yang multi-bagian dan multi-disiplin untuk melakukan proses ini dengan menggunakan manajemen resiko dalam memetakan kemungkinan berbagai aspek kegagalan. Continue reading “LRT dan MRT … dan Rekayasa Sistem”

Iklan

Terjebak Nostalgia … (baca: Terjebak Algoritma)

Dalam konsep revolusi industri 4.0 yang sedang menjadi pembicaraan hangat saat ini, ada 2 teknologi yaitu data mining dan artificial intelligence (AI) yang dianggap akan merevolusi industri di masa datang. Perusahaan raksasa teknologi, Google, baru-baru ini menemukan berbagai revolusi teknologi berbasis AI yang bahkan bisa mengemulasikan suara manusia untuk menelepon sebuah restoran untuk memesan tempat, tanpa disadari oleh si penerima telpon bahwa dia sedang berbicara dengan komputer.

Jargon teknologi ini, dimana Google akan lebih mengenal anda dibandingkan anda sendiri, akan benar adanya. Google akan mengambil data apa saja yang anda baca dan minati, dimana saja anda sering bepergian dan berapa lama anda disitu, siapa saja kawan anda dan seterusnya. Dan sebagai sebuah entitas bisnis maka dia akan memberikan anda iklan relevan atau berita relevan supaya anda terus menggunakan layanan Google. Dengan teknologi terbaru, google berharap tidak hanya melayani anda, tapi “mengantisipasi” anda ingin melakukan apa.

Relevan adalah kata kuncinya. Untuk menentukan relevansi maka Google tidak mungkin menugaskan satu orang untuk mengikuti anda untuk mengerti anda, dia akan menciptakan algoritma AI yang akan membaca data anda yang sangat banyak (dari apa yang anda klik, sampai berapa lama anda membaca sebuah artikel, posisi anda di google maps dsb).

Disinilah mengapa judul artikel ini adalah terjebak nostalgia. Kenapa nostalgia? Karena algoritma membaca data historis, yaitu dalam bahasa romansa, adalah nostalgia. Mirip dengan pelajaran peramalan, kita bisa menarik garis lurus proyeksi masa depan dengan memplot data masa lampau. Artinya terjebak algoritma adalah terjebak Nostalgia.

Continue reading “Terjebak Nostalgia … (baca: Terjebak Algoritma)”

Apa itu Industri 4.0?

Bayangkan anda suka memasak suatu makanan yang terkenal enak di lingkungan RT anda. Makanan ini cukup kompleks karena membutuhkan bahan makanan dan teknik memasak yang luar biasa. Lalu anda akan memasak untuk rencana acara di RT, sehingga membutuhkan volume makanan yang besar. Awalnya, anda akan memasak manual tentunya, artinya mencuci bahan makanan, mengupas – memotong dengan pisau tangan, mengulek, meracik bumbu, pre-cook, memasak, sehingga akhirnya menyajikan yang menarik secara visual.

Ternyata makanan anda dimasukkan ke sebuah media sosial, sehingga akhirnya banyak order diluar RT anda sehingga anda kewalahan untuk menerima order yang tiba-tiba meledak. Anda mulai merekrut pemasak didaerah RT kemudian melakukan pembagian pekerjaan manual (division of work) menggunakan prinsip Taylor (maaf ini jadi kok Teknik Industri banget). Anda memasuki Revolusi Industri 1.0

Karena tim anda kelelahan setiap kali anda memasak, tentu anda akan memikirkan bagaimana jika dilakukan otomatisasi di berbagai proses dan bagian? Anda membeli mesin pemotong makanan (chopper), blender, pencuci piring otomatis, microwave dan seterusnya. Setiap mesin ini tentunya dapat dipakai secara mandiri satu dengan yang lainnya sesuai dengan proses yang sedang dikerjakan namun masih membutuhkan manusia. Alhamdulillah, anda memasuki Revolusi Industri 2.0

Setelah beberapa waktu, anda melihat ada berbagai mesin baru yang bisa memberikan fitur tambahan seperti microwave yang tidak harus disetup manual, namun tinggal menekan tombol bisa secara otomatis mengatur sendiri ketika memanaskan nasi, lalu otomatis untuk daging beku dll. Ini karena adanya komputer sederhana didalam setiap mesin untuk melakukan otomatisasi. Maka anda memasuki fase otomatisasi Revolusi Industri 3.0

Continue reading “Apa itu Industri 4.0?”

Responsible Innovation

Memenuhi undangan untuk menjadi ko-promotor dan penguji dalam Sidang Terbuka di TU Eindhoven Belanda beberapa waktu lalu, telah mengingatkan saya tentang salah satu pengembangan topik pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yaitu tentang inovasi yang bertanggung jawab (Responsible Innovation atau RI). RI , atau dikenal pula sebagai Responsible Research and Innovation (RRI), salah satunya didefinisikan sebagai proses riset dan inovasi yang mempertimbangkan tidak hanya dampak ekonomi, namun juga dampak sosial dan lingkungan, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Ini berarti inovasi tidak hanya harus berbasis kepada pasar (market-based innovation), tapi juga memiliki tanggung jawab lebih terhadap sosial manusia dan lingkungan.

Inovasi sendiri didefinisikan sebagai pengenalan sesuatu hal yang baru secara relatif terhadap komunitas tujuan dari inovasi tersebut. Sehingga penggunaan BBG atau mobil listrik, sebagai bentuk inovasi, mungkin bukan hal yang baru di negara maju, tetapi merupakan hal yang baru di negara berkembang. Internet bukanlah inovasi di kota besar di Indonesia, tetapi merupakan inovasi di desa yang belum mengenalnya.

Penjabaran inovasi yang tidak bertanggung jawab (responsible) adalah prasyarat dari kegagalan adopsi dari inovasi tersebut. Dengan tidak mempertimbangkan resistensi dari manusia (sosial) dan dampak negatif yang mungkin muncul di lingkungan, maka sebuah inovasi bisa gagal untuk dilaksanakan seusai target awal. Sehingga proses Responsible Innovation merupakan proses preventif dan iteratif yang melibatkan diskusi dengan stakeholders untuk memetakan berbagai kemungkinan dampak yang timbul dan cara mengatasinya. Dengan demikian, sejak awal proses inovasi telah secara lengkap mencakup penanganan kemungkinan kegagalan.

Untuk itu Kerangka Kerja RI biasanya terdiri atas 5 hal yaitu: anticipation, reflexivity, responsiveness, deliberation, and inclusiveness yang pada intinya ingin membangun “tanggung jawab” terhadap inovasi. Continue reading “Responsible Innovation”

Kecelakaan Kerja: Kesalahan Manusia atau Kesalahan Sistem

Ketika musibah terjadi, maka adalah sebuah respons umum bahwa kita akan mencari kesalahan yang menyebabkan musibah itu terjadi. Kita merasa marah dan ingin rasa marah kita diobati dengan menghukum siapa yang salah. Perhatikan kalimat sebelumnya, “siapa” yang salah. Artinya kita akan masuk kedalam mode mencari kesalahan manusia.

Berbagai teori dan komentator bergerak untuk memberikan analisa tentang kesalahannya. Masing-masing akan bergerak sesuai dengan bidang ilmunya dan agenda yang ingin disampaikan. Tidak usah saya sebutkan kembali, namun kita bisa melihat komentar secara politik, keteknikan/rekayasa, profesi insinyur, keagamaan (hukuman dari Atas katanya), dan lain sebagainya. Beberapa komentar diberikan dengan baik, sehingga kita mungkin menjadi bingung kok masalahnya jadi banyak dan semuanya bener sebagai masalah, lalu sudah diketahui atau diprediksi sebelumnya, tapi kok tidak ada solusi sebelumnya yang diterapkan. Lha terus siapa yang harus dihukum? pimpinan politik, pimpinan negara, tokoh agama, organisasi profesi?

Mari kita tinggalkan dulu emosi untuk mendapatkan siapa, dan memberikan jarak kepada kecelakaan yang terjadi, lalu melihat kembali apakah kesalahan yang terjadi murni karena manusia yang salah, atau sistem yang membiarkan manusia tersebut melakukan kesalahan. Di Teknik Industri dan Sistem, kita tahu bahwa manusia, secara inheren, memiliki potensi melakukan kesalahan. Sehingga kita sebagai perekayasa Industri dan sistem, wajib untuk menciptakan sistem yang mengurangi kemungkinan kesalahan yang terjadi. Jika sistem sudah dirancang tetap membuat manusia melakukan kesalahan, maka evaluasi wajib dilakukan di tingkat sistem terlebih dahulu, sebelum akhirnya melihat apakah memang manusianya yang tidak menepati sistem yang dirancang.

Kesalahan manusia mudah solusinya, ganti saja manusianya. Namun kesalahan sistem, maka jauh lebih sulit, karena anda mengganti orang pun, maka kesalahan akan tetap terjadi dan berulang terjadi.

Berpikir Sistem: Mari melihat struktur, tidak pada kejadian semata

“tidak bisa move on”, “tagih janji”, “tidak akan sama”, “ini salah itu..”, “mari rasional” adalah hal-hal yang saya sering baca pada berbagai status media sosial teman-teman saya seiring dengan alur drama pilkada DKI Jakarta yang ternyata masih berlanjut kelihatannya )seperti layaknya sinetron yang laris yang mencapai 10 musim).
Namun yang menarik, di harian ternama dan terbesar di negeri ini, berita tentang rancangan perubahan pemilu legislatif menempati halaman ke 3 sedangkan berita tentang pilkada masih mendominasi dihalaman pertama. Padahal apa yang kita dapatkan pada kejadian hari ini adalah berasal dari berbagai struktur yang secara langsung atau tidak langsung kita setujui bersama di masa lalu. Kita kan setuju bahwa kita memilih demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin. Bahwa ketika ternyata pemimpinnya bukan yang kita inginkan, kita mau ngomong bahwa kita dulu nggak setuju demokrasi, kenapa dulu nggak ngomong waktu reformasi bahwa kita lebih suka orde baru.
Saya sih suka melihat semangat teman-teman saya dari semua kubu untuk mendukung, dan saya berharap semangat ini tetap berlanjut untuk mendorong perubahan yang lebih baik di negara kita. Mari disalurkan semangat anda ke mendorong perubahan struktur, supaya kejadian yang anda rasakan dan menurut anda tidak benar bisa diperbaiki pada akarnya. Apa yang saya maksud dengan struktur? yaitu peraturan perundang-undangan.
Bagaimana regulasi harus diubah supaya pilkada tidak menjadi seperti trah keluarga, bagaimana caranya supaya pemerintahan bisa lebih transparan, sudahkah anda mengirimkan karangan bunga ke DPR yang lagi seru sama KPK, sudahkah anda memberikan pengertian ke masyarakat untuk melihat bahwa hal ini bisa terjadi karena kita tidak mendorong perubahan struktur, bahwa pekerjaan seorang pemimpin yang baik dan pada alurnya perlu dibentengi oleh struktur sehingga tidak terganggu, dst.

Untuk pertama kalinya kan di Indonesia ada gerakan massa yang tidak dimotori mahasiswa, dan bisa terjadi secara spontan dan relatif damai. Jadi jika anda kecewa, gembira, apatis dsb terhadap apa yang terjadi pada kejadian yang lebih sementara dan jangka pendek ini, maka mari kita mulai menggunakan energi kita untuk bergerak obyektif untuk membenahi struktur yang lebih permanen dan jangka panjang.
Kejadian yang terjadi saat ini adalah merupakan hal yang kita setujui di masa lalu, dan kejadian masa depan yang masih bisa berubah bisa kita mulai saat ini.

Catatan kecil:

Sebenarnya saya sempat berjanji kepada diri sendiri untuk menghindari berkomentar dan berartikel tentang pikada DKI Jakarta, karena melihat kok semuanya susah yaa melepaskan diri dari pelabelan cepat bahwa ini pendukung situ, itu pendukung sini dst., lalu dari label itu kita seperti tidak ada habisnya harus berdiskusi tanpa kedua belah pihak mau untuk mengubah pandangannya dari apa yang didapatkan dari diskusi tersebut. Ketika sebuah diskusi menjadi seperti ini, yaa bangsa kita punya istilah unik soal ini, namanya debat kusir. Saya sih masih mencari kenapa kok istilahnya debat kusir… apakah pernah terjadi debat antar 2 kusir delman, antara kusir dan penumpang, antara kusir dan penyeberang jalan atau bagaimana asal muasal istilah “debat kusir”. Ada yang tahu?

Mengapa ada Sistem dalam Teknik Industri

Beberapa waktu yang lalu saya diminta untuk memberikan kuliah umum tentang rekayasa sistem, sehingga saya akhirnya menyusun materi ini.

Satu hal yang penting adalah pergantian nama Teknik Industri menjadi Teknik Industri dan Sistem bukan berarti adalah akan ada program studi baru rekayasa sistem dalam Teknik Industri. Ini bisa saja dilakukan, namun yang lebih penting adalah Perekayasa Industri harus menyadari peranan kesisteman di dalam pekerjaan mereka saat ini. Beberapa kampus di dunia tetap hanya memiliki Sarjana Teknik Industri walaupun nama program mereka adalah Teknik Industri dan Sistem. Hal ini lah yang mendasari slideshare diatas.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑