Cari

Hidayatno's Weblog

An industrial systems engineer who like to make any system better

Teknik Sistem dan Industri

Sejak April 2016, Institute of Industrial Engineering yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE). Sebuah perubahan nama yang dianggap wajar bagi para perekayasa Industri saat ini karena dianggap relevan terhadap perkembangan bidang kerja dan keilmuan yang mendasari kebutuhan industri.

Namun mungkin bagi para Perekayasa Industri di Indonesia, masih belum jelas mengapa kok teknik industri berevolusi menjadi teknik sistem dan industri. Sehingga tulisan ini mencoba untuk menjawab pertanyaan sederhana “mengapa teknik industri berkembang menjadi teknik sistem dan industri?”

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu kita harus juga melihat kenapa kok teknik industri lahir, dan sebagian besar teknik industri lahir dari keilmuan teknik mesin. Bagi para perekayasa industri hal ini dijelaskan dalam kuliah dasar yang sering diberi nama Pengantar Teknik Industri atau Filosofi Industri. Karena kuliahnya panjang 1 semester, maka jika disingkat, karena pada saat revolusi industi berjalan ternyata dibutuhkan seorang perekayasa yang bisa melihat industri secara utuh dengan berbagai komponennya yang saling berhubungan dalam rangka memproduksi sebuah barang. Kebutuhan unik ini lahir karena untuk mencari efisiensi dan efektivitas tertinggi dari sebuah industri, tidak bisa hanya dilihat dari peningkatan per komponen industri, namun saling koneksi antara satu komponen dan komponen lainnya. Bahkan dimungkinkan ada satu komponen yang sebaiknya tidak ditingkatkan karena ketika ditingkatkan malah merugikan secara keseluruhan. Misalnya karena keterbatasan sumber daya. Komponen Industri ini secara sejarah dan sederhananya adalah 5M (man, money, machine, material, dan methods). Nah dari 5M ini mana yang ada jurusan tekniknya? yaa mesin kan. belum ada waktu itu teknik material, dan teknik uang akan terdengar aneh, apalagi teknik manusia. Saling berkoneksi, optimum bukan maksimum, tujuan tertentu, dan berubah secara kontekstual membuat perekayasa industri dilatih untuk merancang dan mengelola “sistem” industri.

Continue reading “Teknik Sistem dan Industri”

Pentingnya Ukuran

Tahu kata “kepentingan”? Kita tahu itu berarti berasal dari penting, yang bisa diartikan ukuran nilai atau bobot yang kita persepsikan terhadap sesuatu. Dalam sebuah diskusi, biasanya akan saling terjadi diskusi kepentingan, apa yang kita anggap penting – kita ingin juga dianggap penting oleh lawan diskusi kita, demikian pula sebaliknya. Artinya ketika kita berdiskusi, sebenarnya kita bernegosiasi tentang tingkatan skala penting milik kita supaya diadopsi oleh rekan diskusi.

Saya ingin mundur sedikit lebih kebelakang. Penting menandakan adanya ukuran. Ukuran merupakan tolok ukur kita melakukan evaluasi dan penilaian. Kepentingan berarti tergantung dengan ukuran. Perdebatan diskusi sering terjadi karena perbedaan ukuran yang mengakibatkan perbedaan kepentingan.

Dalam wacana politik, hal ini lebih seru lagi. Ukuran menjadi lebih membingungkan karena seolah-olah tidak ada ukuran universal yang disepakati bersama. Seorang pemimpin pemerintahan diserang karena dari sisi ukuran penyerapan anggarannya yang sangat parah. Artinya uang pemerintah yang mengalir ke masyarakat akan berkurang, sehingga ekonomi tentu tidak maksimal. Dahulu ini dosa besar yang memalukan bagi seorang pemimpin pemerintah. Namun saat ini ada ukuran baru seolah-olah timbul, yaitu persepsi korupsi. Daripada diserap penuh, tapi dikorupsi, lebih baik tidak terserap. Apakah yakin yang sudah diserap juga bebas korupsi? Tapi kembali ke topik artikel ini, adalah soal beda ukuran.

Mari kita telaah beda ukuran ke dalam 3 hal:

1. Yang diukur beda (.. termasuk persepsi terhadap definisi ukuran)
2. Ranking ukuran yang beda
3. Skala ukuran beda Continue reading “Pentingnya Ukuran”

Superforecasting (Part 2)

Artikel ini ingin melanjutkan artikel sebelumnya yang pernah saya tulis pada akhir tahun lalu. Dalam artikel ini saya mengulas tentang kombinasi penting antara kekuatan pengolahan data dengan kekuatan pengampilan makna dari manusia untuk menghasilkan kemampuan untuk memprediksi masa depan.

Namun ternyata tidak semua orang memiliki kebiasaan untuk menjadi seorang super-forecaster. Saya memilih menggunakan kata kebiasaan (habits) karena kebiasaan merupakan suatu hal bisa dipelajari, dilatih, dan dibangun.

Dari buku aslinya, yaitu Superforecasting: The Art & Science of Prediction, telah dituliskan 10 saran untuk menjadi seorang superforecaster. Di dalam buku ini juga dituliskan ada 4 grup ciri-ciri dari para superforecaster:

  1. Philosophical outlook: Cautious, Humble and Non-Deterministic
  2. Thinking Styles and Abilities: Actively Open-Minded, A need for cognition, Reflective and Numerate
  3. Methods of Forecasting: Pragmatic, Analytical, Dragonfly-eyed, Probabilistic, and Thoughtful Updater and Good intuitive psychologist
  4. Work Ethics: Growth Mindset and Grit

namun saya hanya mengambil beberapa 3 intisari kebiasaan dari apa yang saya tangkap dari buku tersebut. Ketiga intisari yang menurut saya merupakan hal utama yang bisa digunakan untuk menjadi dasar pola dalam menyelesaikan masalah. Continue reading “Superforecasting (Part 2)”

Superforecasting

Bisa memprediksi masa depan adalah kekuatan tersembunyi dari semua organisasi di dunia ini. Organisasi bisnis maupun pemerintah ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan, supaya mereka bisa lebih kompetitif dibandingkan lawan karena bisa mengantisipasi masa depan. Ini yang membuat saya tertarik membaca sebuah buku yang berjudul “Superforecasting: The Art and Science of Prediction” karya Philip Tetlock dan Dan Gartner. Apalagi ini tepat akhir tahun 2015, yang biasanya akan diisi oleh kegiatan reflektif serta prediktif untuk menyikapi masa depan. Artikel ini terinspirasi oleh salah satu chapter didalam buku ini.

Tumbuhnya teknologi, terutama teknologi komputasi informasi dan komputer, telah membuka sebuah petak baru teknologi untuk memproses data secara masif kemudian mengambil kesimpulan terhadap data itu. Sehingga istilah “Big Data” muncul.

Sebagai ilustrasi, jika anda pengguna media sosial, mengapa kok iklan yang muncul di media tersebut seperti bisa membaca pikiran kita? Kenapa kok seperti kenal kita yaa? Hobi, apa yang kita sukai, apa yang kita tidak sukai seperti terbaca oleh media sosial ini? Continue reading “Superforecasting”

Berubah dari Pemecahan Masalah ke Pencarian Masalah

Dalam diskusi topik skripsi dengan mahasiswa saya sering langsung mendapatkan pertanyaan tentang metode setelah si mahasiswa menceritakan permasalahan yang dia ingin dia fokuskan. Fokus kepada metode ini kelihatannya terjadi karena si mahasiswa ingin segera bekerja untuk menyelesaikan skripsinya, jadi pengin tahu apa yang harus segera dilakukan dengan mendapatkan metode yang tepat.

Pertanyaan yang sama juga sering saya dapatkan di blog ini. Ketika beberapa dari pembaca menceritakan bidang tempat dia ingin menyelesaikan masalah, lalu menanyakan metode yang tepat untu menyelesaikan. Padahal saya tahu bahwa yang disampaikan bukanlah masalah, namun masih “gejala” masalah.

Gejala masalah, bukanlah masalah sesungguhnya, karena gejala sebenarnya adalah dampak dari masalahnya. Gejala Panas Tinggi di tubuh adalah dampak dari berbagai kemungkinan penyakit: tipus, flu, DBD, bahkan patah hati. Tapi untuk mencari masalahnya atau bahkan akar masalah (sumber dari segala sumber masalah) adalah langkah yang harus anda lakukan sebelum memilih metodenya.

Kelemahan untuk melihat gejala dan tidak meluangkan waktu untuk memikirkan akar masalah inilah yang membuat mengapa permasalahan bisa terulang kembali, tidak diselesaikan atau bahkan menimbulkan masalah baru.

Switching from Problem Solving to Problem Finding..

Percuma anda memiliki metode yang kuat, kemampuan pemecahan masalah yang cepat, tapi ternyata problem yang diselesaikan adalah salah. Ini mirip prinsip GIGO  Garbage In Garbage Out, semakin cepat komputer maka semakin cepat pula proses GIGO akan berlangsung. Jadi kemampuan proses tidak akan membantu jika inputnya salah.

Itu mungkin mengapa dalam ilmu kualitas dikenal konsep PDCA – Plan, Do, Check dan Action, yaitu konsep untuk melakukan perencanaan sebelum melaksanakan peningkatan. Ini untuk memberikan gap sebelum ada memilih cara untuk menyelesaikan permasalahan (di kualitas pemilihan cara merupakan fase Do, bukan Plan).

Ketika saya menjadi konsultan untuk sebuah proyek yang dibiayai oleh JICA Japan International Cooperation Agency, saya sering harus mengikuti dan mendampingi proses “fact finding” meeting. Setiap deviasi dari agreement yang telah disepakati, JICA akan mengirimkan tim untuk melakukan ini. Dan kami yang membantu, seperti merasa di audit, karena sebelum meeting mereka biasanya mengirimkan sebuah daftar pertanyaan yang berhubungan dengan deviasi yang terjadi sebagai bahan rapat. Dan jangan bayangkan rapatnya seperti rapat di negara kita yang hanya  2 jam lalu pergi lalu …. ya sudahlah. Tapi bisa berlangsung berhari-hari hingga larut malam sehingga mereka mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan tanpa adanya misinterpretasi diantara kedua pihak.

Apapun namanya: Pendefinisian Masalah, Fact Finding, Pemahaman masalah, Perencanaan pemecahan masalah atau lain-lainnya … Jangan Lupa untuk selalu memfokuskan dulu ke problem finding sebelum ke problem solving.
 

Teknik Industri akan menjadi Teknik Industri dan Sistem

Institute of Industrial Engineers (IIE)  adalah organisasi profesi dunia bagi perekayasa industri yang berasal dari Amerika Serikat.  IIE saat ini sedang mengumpulkan voting dari para anggotanya di dunia (termasuk saya) untuk mengganti namanya menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering hingga 15 Januari 2016. Ketua IIE saat ini,  Prof Moore dari University of Southern California (USC) dalam wawancara dengan majalah Industrial Engineer Juli 2015, menjelaskan panjang lebar tentang hal ini.  Prof Moore sendiri merefleksikan perkembangan TI menjadi TIS/TSI* dengan perubahan nama TI di USC menjadi TIS/TSI.

IIE memandang SE merupakan evolusi yang natural dari fokus yang mengembang dari TI. Hal ini diperkuat dengan aplikasi keilmuan dan bidang kerja para perekayasa Industri yang semakin berkembang ke berbagai tipe industri. Banyak penjelasan terhadap kesamaan dan perbedaan dari SE dan TI. Namun secara sederhana bagi para perekayasa Industri:  jika TI berfokus kepada “Realisasi dari sebuah Produk”, yaitu dari rancangan ke produk yang dikonsumsi pelanggan, maka SE berfokus kepada Realisasi dari Sistem, dari rancangan sistem ke sistem yang telah berjalan. Itu mengapa secara “body of knowledge” terdapat berbagai kesamaan dan irisan dari kedua kelompok ilmu ini.

Pada kurikulum TI yang berfokus kepada realisasi produk dengan nilai-tambah-lebih (value added) terdapat struktur multi-skala: dari produk,  proses dan pabrik dengan 3 tanggung jawab utama: perancangan, pemasangan dan pengelolaan. Jika fokus ini diubah ke sistem yang juga bernilai-tambah-lebih, maka logika yang sama akan berlaku yaitu struktur multi skala (Systems of Systems – SoS) dengan tetap berfokus kepada perancangan,  pemasangan dan pengelolaan dari sistem.

Jadi apa dong beda produk dan sistem?

Continue reading “Teknik Industri akan menjadi Teknik Industri dan Sistem”

Kemerdekaan 70 Tahun Indonesia ala Berpikir Sistem: Limits of Growth

Menyambut kemerdekaan Indonesia ke 70 di tahun ini, di dunia sebenarnya sedang terjadi kejadian luar biasa yaitu dibukanya kembali kedutaan besar AS di Kuba.  Kuba adalah satu-satunya negara di dunia yang secara indikator memiliki kondisi keberlanjutan yang ideal (versi UNEP Lembaga PBB yang mengurusi soal Lingkungan). Kondisi keberlanjutan adalah kondisi suatu negara dimana terjadi keseimbangan antara kondisi sosial (pendidikan,  kesehatan,  budaya dll),  kondisi ekonomi (konsumsi sama atau tidak lebih dari produksi)  dan kondisi lingkungan (Kuba tidak melakukan eksploitasi yang merusak sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya).

Namun tentunya disaat awal,  studi dipublikasikan,  banyak orang terperanjat dan mengira bahwa yang masuk kategori ini adalah berbagai negara maju,  terutama negara-negara yang tergabung dengan berbagi singkatan2 keren seperti G20, G8, APEC,  dsb. Kok bisa Kuba? Yang bahkan mobil-mobil disana masih menggunakan karburator dan merupakan peninggalan teknologi tahun 1960an,  kondisi terakhir ketika Kuba masih menganut pasar terbuka belum dipegang oleh Fidel Castro.

Ternyata walaupun dipandang memiliki tingkat modernitas yang rendah,  pendidikan di Kuba dapat menjangkau semua rakyatnya,  fasilitas kesehatan (walaupun tidak state of the art)  dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat,  ekonomi tetap berjalan dengan tidak konsumsi berlebihan maka sumber daya alam lingkungan mereka terjaga.

Konsumsi berlebihan di kalangan penggiat lingkungan hidup memang dianggap musuh utama yang membuat lingkungan terancam. Dalam diskusi di UI tentang teknologi informasi,  saat ini hampir sebagian besar mahasiswa UI telah memiliki minimal 2 gadget,  Diprediksi setiap orang akan memiliki minimal 3 gadget dalam 5 tahun kedepan (lihat saja perkembangan smartwatch murah saat ini). Setiap gadget akan membutuhkan listrik untuk mencharge battery,  listrik dihasilkan dari sumber daya alam lingkungan,  artinya kebutuhan listrik tidak akan meningkat secara linear tapi secara eksponential.
image

 

Continue reading “Kemerdekaan 70 Tahun Indonesia ala Berpikir Sistem: Limits of Growth”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.607 pengikut lainnya