Standing Ovation Model pada Ceramah Idul Fitri

Mengikuti shalat idul fitri di hari ini, saya tersenyum mendapatkan sebuah fenomena standing ovation model, setelah melihat anak2 kecil yg begitu selesai shalat langsung berdiri dan keluar dari lokasi shalat.

Standing ovation model adalah fenomena yg terjadi biasanya di sebuah konser dimana jika konser itu memang luar biasa, penonton akan berdiri utk memberikan penghargaan kepada pemainnya. Masalahnya adalah kriteria luar biasa itu relatif, sehingga seringkali kita ragu-ragu apakah kita perlu ikut berdiri atau tidak. Terutama jika memang kualitasnya konsernya tanggung gimana?

Ada banyak hal yg akan mempengaruhi selain kualitas konser: budaya menghargai tamu, apakah tiketnya gratis atau bayar sendiri, kenal kah ama panitianya, standard anda sendiri dll.

Namun ternyata salah satu faktor terpenting lainnya, yaitu adalah apakah ada orang di depan anda (dalam jangkauan pandang anda) yg berdiri. Jika ada maka anda akan lebih terpancing utk juga ikut berdiri, karena ada yg ternyata memberikan penghargaan lebih, jadi siapa tahu anda memang lagi salah, toh lebih sopan, kita kan orang timur. Orang melihat anda berdiri maka terkadang akhirnya sebagian besar orang berdiri.

Fenomena ini terjadi pagi ini dalam shalat idul fitri karena tiba2 dideretan depan 3 orang anak kecil berdiri dengan santainya utk keluar, akibatnya memicu puluhan anak kecil lainnya mengikutinya, tanpa peduli tatapan tidak setuju dari orang tua disekitarnya.

Jika memang konsernya jelek atau standar nilai pribadi anda tinggi, tentu tidak akan terpengaruh, yg ditengah2 inilah yg akan terpengaruh. Di pemodelan, kita mencoba mengkuantifikasi titik ambang keraguan ini. Apakah lihat 1 cukup, 2 atau haru lebih dari 5. Apakah depan 1 baris, 2 baris dll.

Saya jadi mengerti kenapa kok dulu ada pengurus masjid yg meletakkan anak2 kecil dibelakang, atau dilarang menggerombol. Dan jika anda promotor konser, letakkan org yg emosional di bagian depan, supaya pemain konser senang karena orang Indonesia suka berdiri dan menghargai.

Minal Aidin Wal Faidin. Mohon maaf lahir batin. Selamat Idul Fitri 2012M

Memori Masa Depan

Memori masa depan terdengar aneh bagi kita semua, karena biasanya memori adalah ingatan akan masa lampau. Mana mungkin kita memiliki sebuah memori kalau hal itu belum terjadi?

Pernah melihat sebuah drama teater? Para pemainnya berlatih setiap saat sebelum pertunjukkan untuk menciptakan memori masa depan, sehingga ketika drama dilangsungkan didepan panggung mereka langsung memainkan perannya. Mereka menghafalkan dialog, lokasi adegan,  dan lain-lain untuk menyajikan tontonan yang terbaik bagi penonton.

Ternyata pada kenyataannya kita semua memiliki memori masa depan. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Ingver terhadap otak manusia, ditemukan bahwa manusia setiap saat melakukan pembentukan alternatif-alternatif kejadian di masa yang akan datang dan rencana persiapan untuk mengatasi setiap alternatif yang diciptakan tadi. (Mirip yaa dengan proses pemodelan dan simulasi).

Baca lebih lanjut

Peranan Simulasi dalam Penerapan Six Sigma

Dalam konteks six sigma maka simulasi digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam melaksanakan metodologi DMAIC Six Sigma, setara dengan 7 Tools (Basic Statistical Tools), 7 New Tools, QFD, DOE (Advance Statistical Tools) dsb. Seperti juga tools-tools lain maka kita memilih tools karena kita ingin mengetahui sesuatu yang berguna bagi langkah analisa kita selanjutnya, misalnya kita ingin tahu prioritas – maka kita gunakan pareto. Jika kita ingin tahu akar permasalahan supaya lebih fokus dan tepat sasaran solusinya – kita gunakan fishbone analysis atau interrelationship diagraph. Dimana letak tool simulasi? Jika anda punya pertanyaan what if (bagaimana jika?)

Jika dalam langkah DMAIC ada satu atau beberapa langkah anda ingin mengetahui “bagaimana jika?” maka jawabannya dapat anda “simulasikan” untuk mendapatkan gambaran: apa saja yang mungkin timbul jika anda mengambil suatu keputusan untuk melakukan sesuatu.

Apakah semua langkah dalam DMAIC bisa didukung dengan tool simulasi? menurut saya iya, walaupun secara pribadi saya baru mengalami 2 kondisi yaitu Define dan Analyse – Improve. Mari kita membatasi dahulu dalam bagian simulasi operasional, karena jenis-jenis simulasi itu luas sekali, dan diasumsikan project six sigma yang dilaksanakan bukanlah sebuah project untuk mengurangi resiko atau sebuah DFSS (Design for Six Sigma)

Contoh untuk suatu kasus define yang saya dapatkan adalah ketika ada sebuah layanan kesehatan yang berorientasi pada masa depan memiliki pertanyaan besar:

“apakah dengan peningkatan laju datang pasien ke tempat kami 2 kali lipat maka kami mampu melayani tanpai mengurangi kualitas pelayanan? (dihitung dari waktu tunggu pasien) Jika tidak, dimana dalam proses layanan kami harus meningkatkan kecepatan layanan secara signifikan?”

Pertanyaan ini masih dalam bentuk skenario tetapi merupakan acuan dalam project six sigma yang akan dilakukan – show me the future problems, I want to get ready. Jadi dalam fase define pun bisa dilakukan simulasi.

Untuk Control, kita bisa mensimulasikan apakah mekanisme control yang dilakukan akan dapat mengurangi reject atau mencapai target yang diminta dalam project charter.

Bagaimana dengan Measure?

Karena ruang lingkup simulasi sendiri luas, maka salah satu yang termasuk dalam simulasi adalah simulasi resiko (risk simulation) yang sebenarnya masuk dalam kategori simulasi matematis. Resiko berbicara tentang masa depan, tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, sehingga yang namanya resiko adalah ketidak pastian. Ini juga berarti resiko juga berbicara what-if (bagaimana jika?).

Design for Six Sigma (DFSS) merupakan salah satu implementasi konsep six sigma yang berbicara tentang masa depan yaitu desain dari sebuah produk (atau operasi) pada masa yang akan datang. Karena desain produk akan mempengaruhi desain proses, yang berikutnya akan jabarkan dalam sebuah proses manufaktur sehingga setelah diperhitungkan maka desain yang tepat dan telah mempertimbangkan kualitas ala six sigma sejak awal akan dapat menghemat lebih besar biaya ketika diproduksi nantinya.

Dalam dunia jasa DFSS diimplementasikan mirip dengan Business Process Re-engineering (BPR) hanya berbeda dalam skala (tidak semua proses didesain ulang) dan menggunakan metode berbeda.

Kembali ke simulasi, dalam simulasi resiko menjadi tools yang cukup vital dalam DFSS(soalnya kalau saya tulis alat, bukan tools, jadinya tools vital), walaupun dalam lingkup Six Sigma ataupun lean sixsigma, simulasi resiko tetap bisa digunakan jika memang ada kebutuhan untuk itu.