Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking

26 02 2012

Ketika saya sedang membangun model sistem dinamis pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia, ada satu konstanta yang secara elegan diberi nama “budget effectiveness”, yang dihubungkan dengan variabel government spending (belanja pemerintah). Penterjemahan lapangan dari konstanta ini adalah “korupsi”. Tentunya dalam disertasi saya setelah dipertimbangkan dengan seksama akhirnya diputuskan untuk menghilangkan seluruh aspek politik sehingga nilai konstanta yang saya berikan adalah 100%, namun dalam prosesnya saya bertanya-tanya berapa nilai seharusnya yaa apakah 80% (20% korupsi), 75%, 70%, dan 60%. (Jadi ingat masa-masa jadi konsultan pemerintah, yang ternyata berbeda-beda, tidak ada konsensus nasional).

Sebagai Perekayasa Industri, saya menjadi tertarik untuk apakah memungkinkan melihat korupsi dalam kacamata kita, dan sementara ini kacamata yang cocok adalah kacamata ilmu lean thinking (lean management) dengan memandang korupsi sebagai waste. Lean adalah sebuah pola pikir untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi proses sehingga didapatkan aliran yang paling efisien untuk memberikan nilai yang diharapkan oleh pelanggan akhir. Karena berbasis pada pelanggan, maka proses yang dilakukan secara tidak langsung akan efektif. Jadi efisien dan efektif sebagai tujuan akhir perekayasa industri secara bersamaan dapat dicapai.

Nah kalau sebuah korupsi adalah waste, maka apakah dalam tools dan methods yang digunakan dalam lean ada yang bisa dipakai untuk mengatasinya?

Baca entri selengkapnya »





Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)

1 06 2011

Hari ini di kampus, kami kedatangan seorang alumni yang berprofesi sebagai arsitek untuk mencari tenaga teknik industri untuk bekerja di grup perusahaannya sebagai asisten direktur utama yang bertugas meningkatkan efisiensi dan efektivitas usahanya. Sebuah diskusi menarik timbul karena ternyata dia ditugaskan secara spesifik ke TI karena kebutuhan yang mendesak serta pengakuan kemampuan perekayasa industri untuk  menetapkan kontrol utama kepada setiap proses sehingga kerugian akibat ineffisiensi dapat ditekan.

Berita ini menarik saya untuk menulis tentang pentingnya peran pendukung, yang terkadang tidak terlihat di luar atau langsung, tetapi berperan sangat penting dalam menciptakan "konsistensi” kualitas layanan langsungnya. Dan sebagai teknik industri pada dewasa ini, sangat besar kemungkinan anda tidak akan bekerja sebagai pemeran utama klasik sesuai bidang ilmu anda di bidang manufaktur misalnya sebagai PPIC manager, QC atau lainnya. Banyak alumni yang bekerja dibidang jasa atau dibidang manufaktur tetapi berbasis proses kimia (pabrik semen, minyak dan energi, minuman, consumer goods, farmasi dll).

Pada bidang-bidang ini, perekayasa industri memang akan banyak berperan sebagai peran pendukung dan peran pendukung ini jangan dianggap lebih kecil daripada pemeran utama, bahkan peran pendukung sebenarnya jauh lebih penting daripada pemeran utama

Baca entri selengkapnya »





Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri

29 01 2011

Topik tentang sustainability yang diterjemahkan bisa ke “keberlanjutan” atau “kelestarian” telah semakin mengemuka di dunia seiring dengan kejadian cuaca buruk dan tidak terduga yang terlihat semakin sering melanda dunia, yang kita rasakan bersama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan tentnag pemanasan global dengan adanya pendapat bahwa peristiwa ini adalah peristiwa “natural” rutin tanpa ada campur tangan manusia, sebagai perekayasa industri, kita semua wajib memasukkan unsur keberlanjutan kedalam fokus perhatian kita.

Kita sadari atau tidak, kita telah menkonsumsi energi dan sumber daya yang semakin lama semakin besar dibandingkan pendahulu kita. Dulu orang membeli daging dengan dibungkus daun singkong (sehingga sampai ada joke kotornya he..he..), sekarang we go to nearest hypermart that use plastics. Plastics use more energy and more non-degradable waste. Jadi adalah tugas kita, untuk menjadi pendahlu dari anak cucu kita, mempertimbangkan gaya hidup dan pendekatan pemecahan masalah. Saya pribadi yakin Perekayasa Industri (Industrial Engineers), memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dalam usaha ini.

Tapi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Setelah membaca berbagai majalah dan jurnal, dan yang terakhir saya sedang membaca special report dari majalah MIT Sloan Management Review: Sustainability as Competitive Advantage, saya tiba pada pada kesimpulan bahwa peranan kita adalah menggunakan pendekatan dan metode di Teknik Industri untuk sebuah target baru (old proven ways with new indicators)

Baca entri selengkapnya »





Mengapa kesimpulan di “tarik” ?

7 10 2010

Dalam seminar untuk mahasiswa yang sedang mengambil skripsi beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah langkah dalam metodologi yang ditulis “Menarik Kesimpulan”. Tulisan ini menarik perhatian saya, karena biasanya mahasiswa menulisnya dengan hanya “Kesimpulan”. Saya baru menyadari bahwa memang kata predikat yang tepat untuk kesimpulan memang menarik, bukan mengambil, mendapatkan atau menghasilkan, karena kesimpulan diambil dari kata benda “simpul”.

Simpul dalam kamus besar bahasa indonesia adalah ikatan pada tali atau benang. Untuk menguraikan benang atau tali kusut yang terdiri lebih dari 2 benang maka biasanya kita harus mencari simpulnya, artinya kita harus memulai dari suatu benang kemudian menarik benang hingga mendapatkan simpulnya. Bukan langsung “mengambil” simpulnya, kecuali dari awal memang sudah anda tahu simpulnya disitu.

Untuk benang-benang yang saling bersimpulan (seperti jaring laba-laba), maka menarik simpul berarti mencari dimana simpulnya berada, karena simpul merupakan titik terkuat dari benang tersebut. Yang saya maksud terkuat adalah, kekuatan dari seluruh “konstruksi” benang akan tergantung dari kekuatan simpulnya, bukan kepada kekuatan masing-masing benang. Benangnya bisa dari baja yang mampu menahan 10 satuan gaya misalnya, tetapi jika simpulnya hanya mampu menahan 5, maka keseluruhan konstruksi adalah 5.

Untuk benang yang kompleks, simpul juga tidak hanya satu, bisa beberapa. Biasanya ada simpul yang paling dominan, ada yang tidak.

Dalam konteks analisa, maka kesimpulan bukan hanya menunjukkan hasil yang didapat dari pengolahan data, tetapi lebih luas. Kesimpulan bisa berupa:

  • Pemahaman baru terhadap prosesnya (ternyata ketika kita “mencari” simpul ada hal-hal yang baru dan menarik untuk disampaikan)
  • Penjabaran akar permasalahan (kenapa menurut kita ini adalah akar masalahnya)
  • Pengalaman yang dialami ketika melakukan “penarikan” kesimpulan

sehingga menurut saya, kesimpulan tidak harus mengandung usulan solusi, tetapi apa yang kita dapatkan dari keseluruhan proses analisa yang telah kita lakukan.





Tips bagi Alumni Teknik Industri sebagai Pegawai Negeri Sipil PNS (bag 1) – Apa sih fungsi pemerintah?

24 09 2010

Dengan semakin banyak mantan mahasiswa saya menjadi PNS di republik ini, maka saya merasa perlu menuliskan sedikit pemahaman saya tentang pemerintahan dan bagaimana anda bisa memandang pemerintahan dalam kacamata seorang perekayasa industri.

Saya memandang secara sederhana bahwa Pemerintah memiliki 2 fungsi utama pelayanan langsung dan regulasi. Walaupun sebenarnya dalam pelayanan langsung, bukan berarti pemerintah harus turun tangan langsung. Dalam buku reinventing the government, pakar pemerintahan berargumen bahwa pemerintah adalah regulator, bukan operator. kata “govern” dalam government, bukan berarti kita melakukan pelayanan, tetapi menentukan standard dan mencari sumber daya sehingga layanan tersebut dapat terlaksana.

Saya juga tidak mengerti kenapa kata “govern” yang bisa diartikan mengendalikan, diterjemahkan menjadi “perintah” atau kita kenal sebagai “pemerintah”. Mungkin karena aroma militer dahulu lebih kental. Perintah memiliki makna yang berbeda dibandingkan kendali, anda pasti bisa merasakannya, tapi mungkin kita bahas pada lain kesempatan.

Fungsi Layanan Publik

Pelayanan Langsung, menurut saya, adalah sebuah fungsi pemerintahan kepada konstituennya (khan kita yang memilih) sehingga kita dapat melakukan aktivitas produktif tanpa banyak terganggu. Ini mencakup layanan kesehatan dasar, sosial, kebersihan, pemeliharaan, pembangunan infrastruktur dsb. Untuk itu kita memilih pemerintah dan membayar gayus …. eh pajak, sebagai “iuran” kita sebagai warga negara. Kita juga memberikan mandat supaya uang dan “asset” kita (tambang, air dsb) dikelola sehingga menghasilkan keuntungan buat rakyat. Jadi kalau kita tidak suka layanannya, yaa diganti saja pada pemilihan berikutnya atau hati-hati memilih yang berikutnya.

Bagi yang tinggal di apartemen mungkin mengenal istilah building management, dimana kita menyewa tim manajemen untuk mengurusi hal-hal yang menurut kita harus mereka urus. Di kompleks, ada RT yang membantu kita untuk mengurus keamanan, pemungutan sampah, dll. Kalau udah nggak perform, yaa diganti khan?

Apakah layanan pemerintah harus langsung? Terkadang saya suka tersenyum simpul mendengar tuntutan demo dari orang-orang yang menginginkan bahwa pemerintah memegang langsung sebuah layanan publik (sebagai operator), terutama karena menganggap bahwa layanan tersebut harus murah dan “pro-rakyat”. Sah-sah saja, tetapi berarti mereka juga tidak bisa menuntut pelayanan yang baik dan pasti akan tidak meningkat, karena pemerintah sebagai operator berarti anda meletakkan akuntabilitas ke suatu badan yang dari awal didesain untuk tidak jelas siapa yang bertanggung jawab.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 165 pengikut lainnya.