Berpikir Sistem

Berpikir Sistem atau berpikir Sistemik dapat didefinisikan berpikir sesuai dengan ciri/karakteristik dari sebuah sistem. Karakteristik sebuah sistem mencakup:

  • memiliki komponen-komponen,
  • komponen ini merupakan komponen yang diidentifikasi didalam sebuah batasan tertentu
  • komponen ini bekerja sama dengan suatu pola tertentu,
  • pola ini akan menghasilkan sebuah karakteristik yang berbeda dari gabungan sederhana komponennya,
  • sistem memiliki tujuannya, pola interaksi komponen tadi dilakukan untuk mencapai tujuan

Sehingga saya membuat beberapa tulisan untuk menjelaskan ciri-ciri seseorang telah berpikir sistemik. Tulisan itu akan dirangkum dalam daftar dibawah ini,

  1. Optimal Bukan Maksimal
  2. Selalu mencari konteks pada Permasalahan yang dihadapi
  3. Fokus mencari Struktur dengan Helicopter Views
  4. Ada batas. Cari dan pahami batas
  5. Belajar dari Sebuah Masalah secara Analisa Sistemik
  6. Sadari bahwa asumsi adalah asumsi, bukan fakta
  7. Mencari Titik Ungkit
  8. Cari, Perjelas, dan Sejajarkan Tujuan Sistem
  9. Apakah berbeda berarti bertentangan?
  10. Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara

Silahkan mengeksplorasi …

7 thoughts on “Berpikir Sistem

  1. selamat mlm pak hidayanto sya mau nya,, sya mhsiswa yg sdh bekerja diperusahaan franchise bahan baku plastik dan kertas… sekarang saya semester 7 dan sya sdh prkatek kerja di perusahaan sya sendiri .. kira klau kita kerja prktek di perusahaan jasa franchise bahan baku plastik dan kertas itu mengunkan judul kp yang tepat apa pak.. trims

  2. fenomena yg terbaca oleh saya adalah kebanyakan orang dalam beljar system dinamic kurang memhami system thinking padahal “thinking system” bagian dari “system thinking”

    • Setuju dengan pendapat anda. Banyak sekali pemikiran tentang bagaimana berpikir sistem dan sistem dinamis “berhubungan”. Salah satunya yang populer adalah dari forrester sendiri yang berpendapat berpikir sistem dapat membantu proses sistem dinamis (dalam proses konseptualisasi). Ada yang mengatakan bahwa system thinking yang istilahnya dipopulerkan oleh Peter Senge dalam 5th Discipline, adalah versi strip down dari SD jika mengacu kepada penggunaan archetypes (yg sebenarnya adalah mekanisme feedback).

      Namun arti dan definisi berpikir sistem serta sistem dinamis sendiri terkadang dimaknai berbeda. Apakah memang jika mampu membuat model stock and flow maka otomatis mampu berpikir sistem?

      Sehingga dalam pendidikan formal SD sangat ditekankan pola berpikirnya terlebih dahulu, baru pemodelannya.

  3. Soniel R Tulak berkata:

    Pak Hidayatno,

    Salam kenal, saya Soniel R Tulak, panggilan Sony.
    Saat ini sedang belajar tentang berpikir sistem.
    Menurut pendapat Bapak, apakah permasalahan penggunaan software license merupakan suatu permasalahan yang sistemik, karena tetap saja muncul pembajakan di negara kita. Meskipun saat ini sebenarnya ada software yang open source seperti Linux untuk OS dan OpenOffice untuk aplikasi office, namun pada kenyataannya susah sekali merubah mindset orang untuk beralih dari proprietary software (closed source) yang memang sejak dari dulu mendominasi. Tetapi kenapa di negara lain sepeti Cina, Malaysia, suskes dalam menerapkan peggunaan opensource sehingga setidaknya dapat menekan pembajakan software khususnya di bidang IT.

    Mohon pendapatnya.

    Terima kasih

    • Salah satu syarat permasalahan bisa diselesaikan secara sistemik adalah kompleksitas. Kompleksitas ada 2 yaitu kompleksitas detail dan dinamis. Kompleksitas dinamis adalah kompleksitas akibat banyaknya kemungkinan output dari permasalahan. Kemungkinan ini terjadi akibat adalah ke-multidimensi-an dari permasalahan. Dalam kasus yang anda ajukan, memang terdapat kondisi multi-aktor, multi-disiplin. Jadi kita bisa sependapat untuk mengatakan bahwa ada kompleksitas dalam permasalahan yang memang sesuai jika dipahami dengan pendekatan sistemik.

      Dalam kasus pembajakan ini, argumen yang anda bangun memang terlihat memiliki tingkatan helicopter views yang berbeda, anda berbicara soal mindset (tingkat individu), kemudian anda berbicara tingkat negara. Keduanya memiliki tingkatan agregasi yang berbeda, sehingga akan membuat kompleksitas permasalahan ini akan sangat luas.

      Saya pribadi selalu berhati-hati untuk membandingkan Indonesia dengan negara lain. Negara kita unik pak, semakin saya mendalami konsep systems thinking, semakin saya sadar bahwa solusi di negara lain berhasil untuk diadopsi ke Indonesia harus selalu pasti harus kita “tweaking” untuk bisa berhasil.

      Cina menggunakan alasan strategis dan keamanan untuk beralih ke opensource, (mereka takut dengan aplikasi barat yang mungkin memiliki “bug” mengirimkan informasi sensitif) dengan sentral planning yang kuat. Malaysia jumlah penduduknya tidak banyak dan bukanlah negara demokrasi murni. Kita sedang bereksperimen dengan demokrasi, GDPnya masih nanggung, penduduknya banyak, negara kepulauan luas sekali, jadi kompleksitas kita pasti lebih tinggi daripada 2 negara yang anda sebutkan tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s