Peranan Simulasi dalam Penerapan Six Sigma

Dalam konteks six sigma maka simulasi digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam melaksanakan metodologi DMAIC Six Sigma, setara dengan 7 Tools (Basic Statistical Tools), 7 New Tools, QFD, DOE (Advance Statistical Tools) dsb. Seperti juga tools-tools lain maka kita memilih tools karena kita ingin mengetahui sesuatu yang berguna bagi langkah analisa kita selanjutnya, misalnya kita ingin tahu prioritas – maka kita gunakan pareto. Jika kita ingin tahu akar permasalahan supaya lebih fokus dan tepat sasaran solusinya – kita gunakan fishbone analysis atau interrelationship diagraph. Dimana letak tool simulasi? Jika anda punya pertanyaan what if (bagaimana jika?)

Jika dalam langkah DMAIC ada satu atau beberapa langkah anda ingin mengetahui “bagaimana jika?” maka jawabannya dapat anda “simulasikan” untuk mendapatkan gambaran: apa saja yang mungkin timbul jika anda mengambil suatu keputusan untuk melakukan sesuatu.

Apakah semua langkah dalam DMAIC bisa didukung dengan tool simulasi? menurut saya iya, walaupun secara pribadi saya baru mengalami 2 kondisi yaitu Define dan Analyse – Improve. Mari kita membatasi dahulu dalam bagian simulasi operasional, karena jenis-jenis simulasi itu luas sekali, dan diasumsikan project six sigma yang dilaksanakan bukanlah sebuah project untuk mengurangi resiko atau sebuah DFSS (Design for Six Sigma)

Contoh untuk suatu kasus define yang saya dapatkan adalah ketika ada sebuah layanan kesehatan yang berorientasi pada masa depan memiliki pertanyaan besar:

“apakah dengan peningkatan laju datang pasien ke tempat kami 2 kali lipat maka kami mampu melayani tanpai mengurangi kualitas pelayanan? (dihitung dari waktu tunggu pasien) Jika tidak, dimana dalam proses layanan kami harus meningkatkan kecepatan layanan secara signifikan?”

Pertanyaan ini masih dalam bentuk skenario tetapi merupakan acuan dalam project six sigma yang akan dilakukan – show me the future problems, I want to get ready. Jadi dalam fase define pun bisa dilakukan simulasi.

Untuk Control, kita bisa mensimulasikan apakah mekanisme control yang dilakukan akan dapat mengurangi reject atau mencapai target yang diminta dalam project charter.

Bagaimana dengan Measure?

Karena ruang lingkup simulasi sendiri luas, maka salah satu yang termasuk dalam simulasi adalah simulasi resiko (risk simulation) yang sebenarnya masuk dalam kategori simulasi matematis. Resiko berbicara tentang masa depan, tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, sehingga yang namanya resiko adalah ketidak pastian. Ini juga berarti resiko juga berbicara what-if (bagaimana jika?).

Design for Six Sigma (DFSS) merupakan salah satu implementasi konsep six sigma yang berbicara tentang masa depan yaitu desain dari sebuah produk (atau operasi) pada masa yang akan datang. Karena desain produk akan mempengaruhi desain proses, yang berikutnya akan jabarkan dalam sebuah proses manufaktur sehingga setelah diperhitungkan maka desain yang tepat dan telah mempertimbangkan kualitas ala six sigma sejak awal akan dapat menghemat lebih besar biaya ketika diproduksi nantinya.

Dalam dunia jasa DFSS diimplementasikan mirip dengan Business Process Re-engineering (BPR) hanya berbeda dalam skala (tidak semua proses didesain ulang) dan menggunakan metode berbeda.

Kembali ke simulasi, dalam simulasi resiko menjadi tools yang cukup vital dalam DFSS(soalnya kalau saya tulis alat, bukan tools, jadinya tools vital), walaupun dalam lingkup Six Sigma ataupun lean sixsigma, simulasi resiko tetap bisa digunakan jika memang ada kebutuhan untuk itu.

About these ads

14 Comments

  1. Super sekali, bacaan yang sangat bermanfaat bagi saya sebagai mahasiswa TI, Saya ingin menanyanyakan sesuatu kepada bpk, apakah six sigma benar2 dapat diaplikasikan. mengingat nilainya yang yang sangat kecil (3.4 PPM) Terima kasih.

    • Memang targetnya jika dibaca secara langsung sangat tinggi. Namun harus diingat bahwa ada beda antara real defects dan defects per million opportunities (dpmo).

      Sebagai target bukannya sebaiknya tinggi yaa namun achievable. Achievable karena perusahaan banyak yang telah mencapainya.

  2. Pak saya ingin tanya, saya sedang skripsi mengenai rancangan perbaikan kualitas dengan menggunakan six sigma, tp pd tahap improve dan control tidak benar-benar dilakukan six sigma, jadi hanya berupa rancangan/usulan saja, apa begitu bisa?
    Lalu apa harus menggunakan tool p-chart? tp setahu saya itu tool utama pengendalian kualitas

    pertanyaan kedua saya,perusahaan yang saya gunakan sebagai skripsi ini bukan perusahaan besar, apakah mungkin atau bisa six sigma diaplikasikan pada perusahaan yang tidak sampai memproduksi sampai 1 juta produk ? apa harus perusahaan dengan produksi 1 juta produk ?

    terima kasih sebelumnya

    • Untuk yang pertama, tergantung pembimbing anda dan kebiasaan di institusi. Kalua secara definisi TI memang dimungkinkan hanya desain perbaikan, khan tugas TI adalah mendesain, termasuk desain perbaikan. Namun memang tidak bisa hanya sebuah “usulan” perbaikan sederhana, tetapi sebagai sebuah desain perbaikan yang lengkap, misalnya kumpulan dari perbaikan SOP, checksheet, penilaian kinerja, perbaikan sederhana pada layout stasiun kerja dll.

      Pertanyaan berikutnya menunjukkan bahwa kamu belum memahami tools dalam quality. Setiap tools memiliki syarat dan bantuan spesifik yang bisa membantu kamu, pelajari sendiri deh. Termasuk pengertian DPMO, walaupun namanya “defects per-million”, tapi ada kata berikutnya “opportunities”.

  3. salam kenal pak,
    saya mau ambil skripsi tentang six sigma, rencananya sih di salah satu pabrik gula di jombang. Yang mau saya tanyakan, pada proyek six sigma pada tahapan improve dan control bagaimana gambaran penyelesaiannya, berhubung kita tidak mempunyai kewenangan untuk merubah kebijakan pabrik,,,, Apakah bisa dengan memakai FMEA??

    Terima kasih…

    • Saya berasumsi bahwa anda tidak ingin menggunakan simulasi komputer dalam melakukan uji coba terhadap peningkatan yang anda usulkan.

      Saya cenderung tidak setuju penggunaan alat yang diluar dari filosofi dasar mengapa alat itu diciptakan, kecuali anda bisa melakukan argumentasi teoritis (dengan mengacu ke jurnal tentunya) bahwa sebuah alat bisa untuk digunakan untuk hal berbeda. Sebuah palu dirancang untuk membantu menghantarkan daya pukul dengan memanfaatkan gaya momentum dari tangan kita sehingga daya yang dikeluarkan lebih besar dari hanya tangan kita sekaligus lebih aman dan sehat buat tangan kita. Artinya jika kebutuhkannya untuk mendorong paku, memcah batu dsb, bisa digunakan palu. Apakah bisa untuk membunuh, yaa bisa, tapi saya kira ketika dirancang khan tidak berfikir untuk didefinisikan sebagai alat bantu membunuh.

      FMEA merupakan alat untuk membantu anda mencari faktor-faktor penyebab kegagalan (hazard) yang akan menimbulkan resiko yang biasanya negatif. Jika anda ingin berargumen bahwa akibat improvement dan control yang anda lakukan maka hazard akan berkurang dan hasilnya akan mengurangi resiko, maka tetap dalam wacana analysis, bukan pada improve atau control.

      Tergantung pada pembimbing atau penguji anda, apakah mengijinkan penggunaan kata six sigma jika tidak melakukan improve and control. Saran saya gunakanlah kata intisari dari sixsigma maupun 7 tools yaitu peningkatan kualitas. Dan apa yang anda lakukan memang adalah masih tahapan desain peningkatan kualitas.

    • Setahu saya tutorial powersim pada menu helpnya sudah sangat membantu untuk membuat model sederhana. Jika yang anda maksud user guide, kita memilikinya dalam bentuk print out di lab, saya lupa apakah lab memiliki versi softcopy.

      Biasanya kesulitan pengembangan model di powersim bukan pada teknis pembuatannya tetapi pada konseptualisasi modelnya, suatu proses yang memang akan sangat penting untuk membatasi dan merumuskan model. Tapi ini lebih ke arah domain keilmuan sistem dinamis.

  4. saya ingin tanya,
    adakah koreLasi antara niLai six sigma dengan nilai cpk
    jika nilai six sigma Lumayan mis. 3,7 tapi cpk nya hanya misaL 0.028, munginkah
    karena sayapernah membaca pada tingkat sigma 3.5 sharusnya niLai cpk nya berkisar sekitar 1.25
    terimakasih pak atas jawabannya..

    • Didalam dunia manajemen, kita mengenal istilah “rule of thumb”, yaitu semacam kesimpulan generik akibat pengalaman kolektif dari para praktisi atau ahli, yang diambil bukan dari penelitian atau perhitungan tetapi berasal dari pengalaman. Salah satunya adalah yang anda kemukakan, yaitu hubungan antara six-sigma dan cpk. Secara matematis, dasar perhitungan keduanya berbeda, jadi tentunya tidak memungkinkan dilakukan korelasi. Anda khan sulit mengkorelasikan misalnya seringnya hujan turun dengan menurunnya demo soal “cicak vs buaya”, karena keduanya fenomena yang berbeda, walaupun “mungkin” juga memiliki hubungan.

      Disinilah letak “rule of thumb” untuk mencoba menjelaskan hubungan tetapi tidak harus membuktikannya secara eksak.

  5. Saya sekarang baru memulai skripsi saya tentang perbaikan kualitas kaos dengan six sigma, yang saya ingin tanyakan, dalam penentuan Critical to Quality (CTQ) dalam hal ini adalah produk kaos, apakah saya harus meminta data kepada perusahaan tentang apa saja CTQ kunci dari produknya untuk dijadikan bahan kuisioner identifikasi kebutuhan pelanggan ? dalam melakukan identifikasi kebutuhan pelanggan, pihak manakah yang sebaiknya diajukan kuisioner, maksud saya apakah outlet yang menjual produk perusahaan atau pelanggan akhir dari produk kaos ini ? terimakasih atas jawabannya…

    • Yang mengetahui apa yang dibutuhkan pelanggan adalah pelanggan itu sendiri, tetapi memang pelanggan terkadang tidak tahu cara mengutarakan kebutuhannya. Jadi terkadang kita perlu mengetahui perspektif dari agennya. Misalnya pelanggan pengin kaos yang “nyaman”. Bagaimana menterjemahkannya? CTQ merupakan sebuah alat menggambarkan/menterjemahkan keduanya.
      Pelanggan khan banyak, jadi terkadang pelanggan satu yang memiliki kebutuhan yang berbeda dibandingkan lainnya. Tentunya hanya agen yang mengetahuinya, karena dia mengetahui langsung keluhan beberapa pelanggan sekaligus. Tapi itupun kalau agennya peduli, terkadang agennya punya perspektif sendiri yang merupakan interpretasi dia (yang belum tentu benar)

      Tambah bingung yaa?

      Secara teori, dalam six sigma yang penting adalah end customer. jadi kuesioner harus ditujukan kepada end customer (pelanggan). Tetapi dalam merancang kuesioner anda perlu berdiskusi dengan agen atau perusahaan terlebih dahulu, mana pertanyaan yang perlu diajukan, relevansinya dsb. lakukan pilot testing ke end customer sejumlah beberapa kuesioner yang anda amati langsung (5-10) untuk melihat apakah kuesioner sudah jelas. Minta pendapat pelanggan tentang kuesioner, perbaiki, lakukan uji kembali baru disebarkan.

  6. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan korea selatan (korea) atau yang memiliki afiliasi korealah yang biasanya menggunakan six sigma. Korea memiliki historis dengan Jepang sehingga walaupun mereka juga mengadopsi pdca dan 7 tools dari Jepang, mereka tidak mau mengakuinya. Ketika Six Sigma dikenalkan, mereka melihat peluang untuk mengadopsi Six sigma yang berasal dari Amerika.
    Saya pernah berkunjung ke LGEI (LG Electronics Indonesia) dan mereka aktif sekali menggunakan six sigma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s